MOJOKERTO, LenteraInspiratif.id – Dampak musim kemarau mulai dirasakan warga di lereng Gunung Penanggungan, Kabupaten Mojokerto. Sejumlah sumber air dan sumur warga mengering sehingga menyebabkan krisis air bersih di beberapa wilayah.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto mencatat hingga Sabtu (4/7/2026), sedikitnya tiga desa di dua kecamatan terdampak kekeringan. Setelah sebelumnya melanda Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, dan Desa Duyung, Kecamatan Trawas, kini krisis air bersih juga terjadi di Desa Manduro Manggung Gajah, Kecamatan Ngoro.
Wilayah yang paling terdampak berada di Dusun Buluresik dan Dusun Gajah Mungkur. Sebanyak 774 kepala keluarga (KK) di dua dusun tersebut mulai kesulitan memperoleh air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Mojokerto, Abdul Khakim, mengatakan berkurangnya debit sumber air di kawasan lereng Gunung Penanggungan menjadi penyebab utama terjadinya krisis air bersih.
“Ketersediaan air bersih di kawasan kaki Gunung Penanggungan berkurang sehingga berdampak pada krisis air bersih,” ujar Abdul Khakim.
BPBD Kabupaten Mojokerto akan segera menyalurkan bantuan air bersih kepada warga setelah Surat Keputusan (SK) Bupati Mojokerto mengenai status penanganan kekeringan diterbitkan.
Selain mengandalkan distribusi air dari pemerintah daerah, BPBD juga akan berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur guna memperkuat pasokan air bersih ke wilayah terdampak, khususnya Desa Kunjorowesi, Duyung, dan Manduro Manggung Gajah.
BPBD mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan apabila terdapat wilayah lain yang mulai mengalami kekeringan. Langkah tersebut diperlukan agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat mengingat musim kemarau diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.
Pemerintah daerah juga terus memantau perkembangan kondisi cuaca serta potensi meluasnya krisis air bersih di sejumlah wilayah rawan kekeringan di Kabupaten Mojokerto.













