MOJOKERTO, LENTERAINSPIRATIF.ID – Ribuan buruh PT Pabrik Kertas Indonesia (Pakerin) kembali turun ke jalan, Senin (22/6/2026). Mereka menggelar aksi di depan pabrik di Desa Bangun, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto, sambil menuntut pembayaran upah Januari hingga Maret 2026 yang hingga kini belum diterima.
Aksi tersebut berdampak pada lumpuhnya arus lalu lintas di Jalan Raya Mojosari-Krian. Kemacetan mengular hingga sekitar tiga kilometer dari dua arah setelah akses di depan pabrik tertutup dan dipenuhi massa aksi.
Ketua PC SPAI FSPMI Mojokerto, Eka Hernawati, mengatakan demonstrasi kali ini dipicu kabar adanya rencana penjualan aset perusahaan di tengah belum dibayarkannya hak para pekerja.
Menurutnya, buruh turun ke jalan untuk memastikan aset perusahaan tidak dipindahkan sebelum kewajiban perusahaan kepada karyawan diselesaikan.
“Agenda kita hari ini sebenarnya untuk mengamankan aset karena ada informasi beberapa mesin di dalam pabrik akan dijual. Saat ini proses pemotongan dan pengeluaran mesin itu disebut sedang berjalan,” kata Eka di lokasi aksi.
Ia menegaskan, tuntutan utama buruh tetap pembayaran upah yang tertunggak selama tiga bulan. Karena itu, pihaknya menolak apabila perusahaan lebih dulu menjual aset sebelum menyelesaikan kewajiban terhadap pekerja.
“Kawan-kawan ini belum mendapatkan upah Januari sampai Maret. Karena itu perusahaan tidak boleh mengeluarkan aset sebelum hak pekerja dipenuhi,” tegasnya.
Eka juga membantah tudingan bahwa buruh sengaja memblokade jalan nasional. Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena akses masuk pabrik telah ditutup oleh pihak perusahaan menggunakan kendaraan berat.
“Sebenarnya kami tidak memblokade jalan. Akses perusahaan sudah ditutup oleh pihak PT Pakerin menggunakan kendaraan besar. Mobil komando akhirnya berada di badan jalan dan memang mengganggu lalu lintas. Ini bukan keinginan kami, tetapi kondisi yang memaksa,” ujarnya.
Aksi yang berlangsung sejak pagi itu membuat kendaraan dari arah Mojosari menuju Krian maupun sebaliknya berjalan tersendat. Sejumlah kendaraan pribadi dan angkutan barang tampak terjebak antrean panjang di sepanjang jalur penghubung Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Sidoarjo tersebut.
Di tengah ketidakpastian nasib perusahaan, buruh mengaku masih berharap PT Pakerin dapat kembali beroperasi. Harapan itu menguat setelah adanya perhatian dari Penasihat Khusus Presiden RI Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal, yang sebelumnya datang langsung meninjau persoalan di perusahaan tersebut.
Namun demikian, Eka mengakui proses penyelamatan perusahaan tidak bisa dilakukan secara instan karena melibatkan berbagai aspek hukum dan bisnis.
“Memang sudah ada langkah konkret agar Pakerin bisa beroperasi kembali. Tetapi menghidupkan perusahaan sebesar ini tidak semudah membalikkan telapak tangan,” katanya.
Menurutnya, skenario utama yang sedang diperjuangkan adalah penyelamatan perusahaan agar ribuan pekerja tetap memiliki pekerjaan. Namun apabila upaya tersebut gagal, maka hak-hak pekerja harus menjadi prioritas utama.
“Kalau perusahaan tidak bisa diselamatkan, maka upah dan pesangon pekerja harus didahulukan. Itu yang menjadi perjuangan kami saat ini,” tegas Eka.
Saat ini, serikat pekerja masih menunggu hasil pembahasan antara tim kuasa hukum, perwakilan serikat buruh, pemerintah pusat, dan pihak terkait yang dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat. Buruh berharap pertemuan tersebut menghasilkan solusi konkret atas krisis yang melanda PT Pakerin.













