MOJOKERTO, LenteraInspiratif.id — Detik-detik ledakan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Medali, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, menyisakan pengalaman traumatis bagi para pekerja. Salah satu korban selamat, Robiatul Adawiyah, mengaku tubuhnya terpental sekitar dua meter akibat ledakan.
Saat kejadian, Robiatul tengah menyiapkan bahan makanan bersama sejumlah rekannya. Ia sedang memetik selada di sebuah ruangan yang berada di sebelah area instalasi gas.
Di saat bersamaan, seorang teknisi disebut sedang melakukan pengecekan sekaligus membuang gas di area yang berjarak sekitar empat meter dari tempat Robiatul bekerja.
Robiatul mengatakan, aktivitas tersebut bukan kali pertama dilakukan. Sebelumnya, pekerja telah mendapat pemberitahuan bahwa gas masih dalam proses pembuangan.
“Waktu itu saya sedang memetik selada sama teman. Ruangan kami sebelah area gas. Sebelumnya memang sudah diingatkan kalau gasnya masih dibuang. Tapi tiba-tiba terdengar suara keras, kemudian api muncul dan saya seperti terdorong,” ujar Robiatul, Jumat (14/8/2026).
Ledakan yang terjadi secara tiba-tiba membuat tubuhnya terpental sekitar dua meter. Saat berupaya menyelamatkan diri, Robiatul kembali menghadapi situasi berbahaya karena bagian atap bangunan roboh di depannya.
“Rasanya seperti didorong api dari belakang. Saya mau lari, tapi atap sudah roboh di depan. Punggung juga kena. Teman saya langsung menarik, ‘Ayo keluar, ayo keluar’,” katanya.
Robiatul mengalami cedera pada bagian pinggang. Ia juga mengalami lebam dan benjolan di bagian belakang kepala akibat benturan. Bagian kepalanya sempat mendapat perban setelah kejadian.
Menurut Robiatul, persoalan pada sistem gas di SPPG tersebut sebenarnya sudah pernah terjadi sebelum ledakan. Sehari sebelum kejadian, gas disebut sempat membeku hingga membuat kompor mati ketika aktivitas memasak berlangsung pada Rabu (12/8/2026).
Teknisi kemudian dipanggil untuk menangani masalah tersebut. Namun, Robiatul menyebut ledakan besar yang terjadi pada Kamis malam merupakan kejadian pertama selama dirinya bekerja di SPPG.
“Sebelumnya memang pernah ada kendala gas, tetapi kalau sampai terjadi ledakan seperti ini baru pertama kali,” ungkapnya.
Robiatul diketahui telah bekerja di SPPG tersebut sejak mulai beroperasi pada September 2025. Selama hampir satu tahun bekerja, ia mengaku belum pernah mengalami kejadian serupa.
Pascaledakan, aktivitas SPPG dihentikan sementara. Penghentian dilakukan hingga penyebab ledakan diketahui dan kondisi instalasi di lokasi dipastikan aman.
Robiatul berharap seluruh korban segera pulih. Ia juga meminta pemeriksaan menyeluruh dilakukan terhadap instalasi gas sebelum kegiatan SPPG kembali dijalankan.
“Saya berharap kondisi semua korban segera pulih dan persoalan teknis di lokasi benar-benar diperiksa sebelum aktivitas kembali berjalan,” pungkasnya.













