MOJOKERTO — Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMP Negeri 1 Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto, menjadi sorotan setelah makanan disebut baru dibagikan kepada siswa sekitar pukul 13.45 WIB.
Waktu pembagian tersebut menjadi perhatian karena pada nampan makanan tercantum keterangan bahwa makanan MBG tidak boleh dikonsumsi setelah pukul 12.00 WIB. Artinya, makanan dibagikan kepada siswa sekitar satu jam 45 menit setelah batas waktu yang tertera.
Persoalan waktu distribusi ini muncul bersamaan dengan dugaan gangguan kesehatan yang dialami belasan siswa setelah mengonsumsi makanan MBG.
Menu yang dibagikan saat itu diketahui berupa sate ayam. Berdasarkan keterangan sejumlah siswa, rasa sate ayam tersebut dinilai berbeda dari biasanya, bahkan terasa lebih asin dan sedikit aneh.
Meski merasakan perbedaan rasa, makanan tetap dikonsumsi karena siswa sudah merasa lapar.
“Rasanya asin dan tidak seperti biasanya, tetapi karena lapar tetap dimakan,” ujar salah seorang siswa.
MBG Baru Dibagikan Pukul 13.45 WIB
Informasi mengenai waktu pembagian menjadi bagian penting dalam persoalan tersebut. Siswa menyebut makanan MBG baru dibagikan sekitar pukul 13.45 WIB.
Padahal, pada nampan makanan terdapat keterangan yang menyebutkan makanan tidak boleh dikonsumsi setelah pukul 12.00 WIB.
Selisih waktu tersebut membuat muncul pertanyaan mengenai proses distribusi makanan hingga akhirnya diterima dan dikonsumsi oleh para siswa.
Apalagi, setelah makanan dikonsumsi, sejumlah siswa kemudian mengalami keluhan kesehatan.
Namun, sejauh ini belum ada kesimpulan bahwa keterlambatan pembagian MBG tersebut menjadi penyebab gangguan kesehatan yang dialami siswa.
Untuk memastikan penyebabnya, diperlukan pemeriksaan dan penelusuran lebih lanjut terhadap kondisi siswa maupun makanan yang dikonsumsi.
Orang Tua Minta Distribusi MBG Dievaluasi
Salah satu orang tua siswa menilai program MBG sebenarnya memberikan manfaat bagi anak-anak. Program tersebut dinilai membantu memenuhi kebutuhan makanan bergizi selama siswa mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
Namun, ia berharap persoalan waktu distribusi menjadi bahan evaluasi agar makanan dapat dibagikan dan dikonsumsi sesuai ketentuan yang telah ditetapkan.
“Program ini sebenarnya sangat bermanfaat untuk siswa. Kami sebagai orang tua juga berharap, ke depan pihak sekolah lebih berhati-hati dalam membagikan makanan dan menyesuaikan dengan jam yang sudah ditentukan agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali,” ujarnya.
Dugaan Keracunan Masih Ditelusuri
Belasan siswa SMPN 1 Mojoanyar sebelumnya dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi MBG. Sejumlah siswa bahkan mendapatkan penanganan medis.
Dalam perkembangan kasus tersebut, waktu pembagian makanan menjadi salah satu hal yang mendapat perhatian.
Makanan yang pada nampannya mencantumkan batas konsumsi pukul 12.00 WIB disebut baru dibagikan sekitar pukul 13.45 WIB.
Meski demikian, keterlambatan tersebut belum dapat disebut sebagai penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami siswa.
Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat kaitan antara kondisi makanan, waktu distribusi, dan keluhan kesehatan yang dialami para siswa.
Pihak terkait diharapkan dapat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proses penyediaan dan distribusi MBG, termasuk memastikan makanan diterima siswa dalam kondisi layak dan sesuai dengan waktu konsumsi yang telah ditentukan.
Hingga kini, penyebab pasti dugaan keracunan yang dialami belasan siswa SMPN 1 Mojoanyar masih menunggu hasil penelusuran dan pemeriksaan lebih lanjut.













