MOJOKERTO – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Mojokerto mengungkap asal limbah cair berbau menyengat yang dibuang di area persawahan Dusun Sambikerep, Desa Pekukuhan, Kecamatan Mojosari. Limbah yang diduga berupa tetes tebu (molase) tersebut diketahui berasal dari PT Energi Agro Nusantara (Enero).
Kepala DLH Kabupaten Mojokerto, Rachmat Suharyono, mengatakan pihaknya langsung melakukan verifikasi lapangan setelah menerima laporan masyarakat pada Jumat (3/7/2026). Dari hasil penelusuran, limbah didatangkan dari PT Enero dan dibuang di lahan pertanian seluas sekitar 2.000 meter persegi atas permintaan petani setempat.
“Pembuangan limbah dilakukan mulai tanggal 1 hingga 3 Juli 2026 dengan rincian Rabu sebanyak tujuh rit, Kamis empat rit, dan Jumat dua rit. Limbah tersebut didatangkan dari PT Enero dengan tujuan menetralisir pH tanah,” ujar Rachmat.
Menurutnya, selama tiga hari terdapat 13 truk tangki yang mengangkut limbah ke lokasi tersebut.
DLH kemudian berkoordinasi dengan pihak manajemen PT Enero. Dari hasil komunikasi tersebut, perusahaan mengakui limbah berasal dari fasilitas produksinya.
Sebagai tindak lanjut, DLH meminta penghentian pengiriman limbah serta penanganan di lokasi yang terdampak.
“Kami telah meminta PT Enero menurunkan personel untuk melakukan penanggulangan atau pembersihan lokasi sekaligus menghentikan pengiriman limbah kepada distributor pupuk yang terlibat,” tegas Rachmat.
Selain menghentikan aktivitas pembuangan, DLH juga mengambil sampel limbah untuk diuji di laboratorium guna memastikan karakteristik serta dampaknya terhadap lingkungan.
Sebelumnya, warga Dusun Sambikerep mengeluhkan bau menyengat yang muncul sejak aktivitas pembuangan limbah berlangsung. Bau tersebut dinilai mengganggu aktivitas masyarakat, terutama pemilik warung makan yang berada di sekitar lokasi.
Sri Utami (52), salah seorang warga, mengaku sudah mengingatkan agar limbah tidak lagi dibuang di lahan tersebut. Namun, truk tangki masih terus berdatangan.
“Sudah kami ingatkan agar tidak membuang di lahan itu lagi. Katanya hanya untuk mematikan rumput, tetapi malah terus mendatangkan tangki lagi,” ujarnya.
Ia mengatakan bau yang ditimbulkan sangat mengganggu aktivitas usaha dan warga sekitar.
“Yang terdampak bukan hanya warung saya, tetapi juga warung-warung lain di sekitar sini. Kemarin lahannya seperti kolam karena penuh tetes dan baunya sangat tidak sedap,” katanya.
DLH Kabupaten Mojokerto memastikan hasil uji laboratorium akan menjadi dasar untuk menentukan langkah penanganan selanjutnya, termasuk apabila ditemukan adanya pelanggaran terhadap ketentuan lingkungan hidup.













