MOJOKERTO, LenteraInspiratif.id — Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Mojokerto menggelar Aksi Kamisan perdana di depan Mapolres Mojokerto, Kamis (13/8/2026). Aksi bertajuk “Save Bumi Majapahit” itu mengangkat persoalan kerusakan lingkungan yang dikaitkan dengan maraknya aktivitas tambang ilegal di Kabupaten Mojokerto.
Selain isu lingkungan, mahasiswa juga membawa pesan tentang pentingnya mengingat dan mengawal persoalan pelanggaran hak asasi manusia (HAM).
Koordinator Lapangan Aksi, Saeful Efendi, mengatakan aksi tersebut menjadi bentuk pengingat bagi masyarakat maupun aparat penegak hukum agar persoalan lingkungan di Mojokerto tidak dibiarkan berlarut-larut.
Menurutnya, keberadaan tambang ilegal berpotensi menimbulkan kerugian bagi masyarakat sekaligus berdampak terhadap kelestarian lingkungan.
“Aksi ini sebagai alarm pengingat bagi Kapolres Mojokerto agar tidak main-main dalam penegakan hukum, apalagi melakukan pembiaran terhadap aktivitas tambang ilegal yang jelas merugikan daerah dan lingkungan,” tegas Saeful.
PMII juga mempertanyakan respons aparat terhadap persoalan tambang ilegal yang selama ini telah berulang kali disuarakan mahasiswa. Mereka menilai belum terlihat langkah penertiban yang konkret terhadap aktivitas pertambangan yang dinilai merugikan masyarakat.
Saeful menegaskan, isu HAM juga sengaja dibawa dalam Aksi Kamisan tersebut. Menurut dia, persoalan pelanggaran HAM tidak boleh hilang dari ingatan publik.
“Selain kita menyuarakan maraknya tambang ilegal, kami juga tidak lupa terkait peristiwa pelanggaran HAM yang harus tetap selalu diingat. Jikalau tidak ingat, maka kita ingatkan,” ujarnya.
Aksi tersebut melibatkan enam komisariat serta sejumlah rayon PMII di wilayah Mojokerto. Penyampaian aspirasi dikemas dengan berbagai kegiatan, mulai dari doa bersama, menyanyikan lagu kebangsaan, orasi ilmiah dan perjuangan, hingga pembacaan puisi serta pertunjukan teatrikal.
Lagu-lagu perjuangan mahasiswa juga turut dinyanyikan dalam aksi tersebut untuk membangun semangat peserta sekaligus menarik perhatian masyarakat yang melintas di sekitar lokasi.
PMII berharap tuntutan yang disampaikan tidak berhenti sebagai catatan dalam aksi. Mereka meminta aparat penegak hukum memberikan respons nyata terhadap persoalan tambang ilegal yang menjadi sorotan.
“Harapannya apa yang telah kami suarakan ini tidak hanya sampai di atas kertas ataupun sampai kepada apa yang kami suarakan hari ini, tetapi juga catatannya masuk ke APH, suara-suara kami terdengar, dan penertiban tambang ilegal segera dilakukan oleh aparat penegak hukum sebagai pihak yang berwenang,” kata Saeful.
Ia menambahkan, PMII akan terus menyuarakan persoalan tersebut apabila tidak ada langkah konkret dari aparat.
“Jika tidak, kami akan terus mendesak Kapolres untuk tidak diam menjadi penonton,” pungkasnya.













