MOJOKERTO, LenteraInspiratif.id — Kemarau panjang mulai mengancam lahan pertanian di wilayah utara Sungai Brantas, Kabupaten Mojokerto, Kamis (10/9t/2026). Di Desa Brayublandong, Kecamatan Dawarblandong, ratusan hektare lahan pertanian kini menghadapi ancaman kekurangan air setelah cadangan di sejumlah embung desa terus menyusut.
Kondisi tersebut menjadi persoalan serius bagi petani karena embung selama ini menjadi salah satu sumber utama untuk memenuhi kebutuhan air tanaman, terutama saat hujan tidak turun dalam waktu lama.
Dawarblandong sendiri merupakan salah satu kawasan di Kabupaten Mojokerto yang cukup rentan mengalami kekeringan. Keterbatasan sumber air alami serta belum tersedianya jaringan irigasi teknis yang menjangkau seluruh lahan membuat petani di sejumlah desa harus mengandalkan air hujan yang ditampung di embung.
Memasuki puncak musim kemarau, kondisi sejumlah embung di Desa Brayublandong semakin mengkhawatirkan. Volume air terus berkurang hingga bagian dasar embung mulai terlihat. Tanah di sekitar embung juga tampak mengering dan mengalami retakan.
Bagi petani, menyusutnya cadangan air tersebut bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi menyangkut keberlangsungan tanaman dan penghasilan mereka.
Sejumlah petani terpaksa mengurangi frekuensi penyiraman agar persediaan air tidak cepat habis. Sementara petani lainnya memilih menggunakan mesin pompa untuk mengambil sisa air yang masih tersedia.
“Kondisinya sudah sangat sulit. Air di embung tinggal sedikit dan makin hari makin surut. Kalau tidak hemat-hemat air atau dapat bantuan pasokan air, tanaman bisa layu dan mati sebelum waktunya panen,” ujar salah seorang petani Desa Brayublandong.
Krisis air tersebut terutama membayangi tanaman jagung dan palawija yang saat ini masih membutuhkan pasokan air untuk mempertahankan pertumbuhannya.
Di sisi lain, penggunaan mesin pompa membuat ongkos produksi petani ikut meningkat. Mereka harus mengeluarkan biaya tambahan untuk bahan bakar dan operasional pompa, sementara hasil panen justru berpotensi mengalami penurunan akibat kondisi tanaman yang kekurangan air.
Petani berharap pemerintah segera turun tangan sebelum kondisi semakin parah. Bantuan mesin pompa maupun suplai air untuk kebutuhan pertanian dinilai dapat menjadi solusi sementara untuk menjaga tanaman tetap hidup hingga memasuki masa panen.
Untuk jangka panjang, petani juga berharap dilakukan pengerukan atau normalisasi embung. Langkah tersebut diperlukan agar kapasitas tampungan air meningkat ketika musim hujan tiba, sekaligus memperkuat cadangan air menghadapi musim kemarau berikutnya.
Krisis air di Brayublandong menjadi pengingat bahwa persoalan kekeringan di kawasan utara Mojokerto membutuhkan penanganan berkelanjutan. Tidak hanya mengandalkan bantuan saat kemarau datang, tetapi juga memperkuat infrastruktur penyediaan dan penyimpanan air sejak musim hujan.













