Lenterainspiratif.id | Mojokerto – Pelemahan nilai tukar rupiah yang membuat dolar Amerika Serikat menembus Rp17.779 kembali memberi tekanan bagi pelaku usaha kecil yang bergantung pada bahan baku impor. Salah satunya dirasakan perajin tempe di Desa Banjaragung, Dusun Gedang Klutuk, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto.
Di tengah lonjakan harga kedelai yang terus terjadi, keluarga Sunoto dan Misayatin tetap berupaya mempertahankan usaha produksi tempe yang telah dijalankan sejak tahun 1979.
Sunoto menuturkan, usaha tersebut merupakan warisan keluarga yang telah digeluti selama hampir setengah abad. Keahlian membuat tempe diperolehnya secara turun-temurun dari keluarganya.
“Pertama kali produksi tempe tahun 1979. Saya belajar dari keluarga,” ujar Sunoto saat ditemui di lokasi produksinya.
Selama puluhan tahun, usaha rumahan tersebut memproduksi tiga jenis tempe, yakni tempe iris, tempe kapas, dan tempe Kopti yang dipasarkan ke berbagai pelanggan di wilayah Mojokerto.
Namun perjalanan usaha itu tidak selalu berjalan mulus. Berbagai tantangan pernah mereka hadapi, mulai dari krisis moneter 1998, pandemi Covid-19, hingga kondisi saat ini ketika harga kedelai melonjak akibat pengaruh nilai tukar dolar.
Misayatin mengatakan, kenaikan harga kedelai menjadi persoalan terbesar yang saat ini dihadapi para perajin tempe. Jika sebelumnya harga kedelai berkisar Rp7.500 hingga Rp8.000 per kilogram, kini telah mencapai sekitar Rp11.500 per kilogram.
“Kenaikannya cukup tinggi. Dulu harga kedelai sekitar Rp7.500 sampai Rp8.000, sekarang sudah Rp11.500 per kilogram,” katanya.
Meski biaya produksi meningkat, keluarga tersebut memilih tidak menaikkan harga jual tempe. Sebagai gantinya, mereka melakukan penyesuaian ukuran produk agar tetap terjangkau bagi konsumen.
“Untuk menyiasati kenaikan harga kedelai, kami tidak menaikkan harga. Yang dikurangi ukurannya,” ungkap Misayatin.
Saat ini, tempe produksi mereka dijual dengan harga Rp4.000 per bungkus untuk semua jenis, baik tempe iris, tempe kapas, maupun tempe Kopti. Ukuran tempe yang dipasarkan sekitar 5 sentimeter x 18 sentimeter dengan ketebalan sekitar 5 sentimeter.
Menurut Misayatin, dampak kenaikan harga bahan baku juga berpengaruh terhadap omzet usaha yang selama ini menjadi sumber penghasilan keluarga.
“Kalau dulu sebelum harga kedelai naik, omzet saya minimal Rp500 ribu sehari. Sekarang sudah tidak bisa seperti itu,” ujarnya.
Meski keuntungan semakin menipis, keluarga Sunoto dan Misayatin tetap memilih bertahan. Bagi mereka, usaha tempe bukan sekadar pekerjaan, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang telah dijalani selama puluhan tahun.
Di tengah ketidakpastian ekonomi dan tingginya harga bahan baku, mereka berharap kondisi pasar segera membaik agar pelaku usaha kecil dapat terus bertahan dan berkembang.
“Yang penting usaha tetap jalan dan pelanggan tetap bisa membeli,” pungkas Misayatin. (*)













