MOJOSARI — Aktivitas perdagangan kelapa masih menjadi bagian dari denyut ekonomi di Pasar Tradisional Mojosari atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Pasar Legi. Di tengah perubahan pola belanja dan munculnya berbagai produk pangan praktis, para pedagang kelapa tetap berupaya mempertahankan usahanya.
Salah satunya Hasyim Asy’ari. Selama kurang lebih 15 tahun, ia menggantungkan penghasilan dari berjualan kelapa di Pasar Legi Mojosari.
Menurut Hasyim, kondisi pasokan kelapa saat ini masih relatif aman. Kelapa yang dijualnya didatangkan dari sejumlah daerah, terutama Banyuwangi dan Bali.
“Alhamdulillah, untuk kendala pasokan tidak ada. Kelapa berasal dari Banyuwangi dan Bali karena ukuran kelapanya sedang,” ujar Hasyim Asy’ari saat ditemui di Pasar Legi Mojosari.
Dari sisi harga, dalam beberapa pekan terakhir harga kelapa di tingkat pemasok masih tergolong normal. Hasyim menyebut harga yang diperolehnya berkisar Rp6.000 hingga Rp7.000 per butir.
Sementara harga jual kepada konsumen menyesuaikan kondisi kelapa dan layanan pengolahan yang diberikan. Kelapa utuh dijual sekitar Rp8.000 per butir, kelapa yang telah dikupas Rp9.000, sedangkan kelapa yang sudah diparut dibanderol sekitar Rp10.000 per butir.
Perbedaan harga tersebut tidak semata-mata berdasarkan bentuk kelapa. Ada proses tambahan yang dilakukan pedagang, terutama untuk kelapa kupas dan kelapa parut. Bagi konsumen, layanan tersebut memberikan kemudahan karena kelapa dapat langsung digunakan untuk kebutuhan memasak.
Bertahan 15 Tahun
Selama menjalankan usaha, Hasyim mengaku rata-rata mampu menjual sekitar 400 hingga 500 butir kelapa setiap hari. Dari jumlah tersebut, omzet kotor yang diperolehnya diperkirakan mencapai sekitar Rp2 juta per hari.
Angka tersebut merupakan omzet kotor dan belum dikurangi biaya pembelian kelapa dari pemasok maupun kebutuhan operasional lainnya.
Pengalaman selama 15 tahun membuat Hasyim cukup memahami perubahan yang terjadi di pasar. Salah satu kondisi yang kerap dirasakan adalah kenaikan harga kelapa menjelang momen tertentu, terutama Iduladha dan Hari Raya Kupat.
Saat permintaan meningkat, harga dari pemasok dapat ikut mengalami kenaikan. Pedagang pun harus menyesuaikan harga jual sembari tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat.
Santan Instan Jadi Tantangan
Tak hanya persoalan harga, pedagang kelapa tradisional kini juga menghadapi perubahan kebiasaan konsumen.
Munculnya berbagai produk santan instan menjadi salah satu tantangan tersendiri. Produk tersebut menawarkan kepraktisan karena masyarakat tidak perlu membeli dan mengolah kelapa secara langsung untuk mendapatkan santan.
Meski demikian, Hasyim tetap mempertahankan sejumlah pilihan bagi konsumennya. Kelapa tersedia dalam kondisi utuh, sudah dikupas, hingga diparut sesuai kebutuhan pembeli.
Pilihan tersebut menjadi salah satu cara pedagang tradisional memberikan kemudahan kepada konsumen sekaligus mempertahankan keberadaan usaha di tengah perkembangan produk pangan praktis.
Berharap Persaingan Tetap Sehat
Di tengah persaingan perdagangan yang semakin beragam, Hasyim berharap para pelaku usaha tetap menjaga persaingan secara sehat.
Menurutnya, persaingan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas perdagangan. Namun, persaingan tetap perlu dilakukan secara wajar tanpa merugikan sesama pedagang.
“Harapan besarnya itu bersaing dengan cara yang sehat,” ujar Hasyim.
Bagi Hasyim, mempertahankan usaha tidak hanya soal harga dan jumlah penjualan. Hubungan dengan pelanggan serta kondisi persaingan antar-pedagang juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan usaha.
Selama 15 tahun berjualan di Pasar Legi Mojosari, Hasyim terus menjalani rutinitas tersebut di tengah perubahan kebutuhan masyarakat. Dengan pasokan yang sejauh ini masih lancar dan harga yang relatif stabil, ia berharap aktivitas perdagangan kelapa di pasar tradisional tetap bertahan dan mampu menjadi sumber penghidupan bagi para pedagang.
Pawarta: M. Isyron Samsudin













