BisnisJawa Timur

Bisnis Bebek Potong di Mojosari, Sekali Panen Cuan Jutaan Rupiah

×

Bisnis Bebek Potong di Mojosari, Sekali Panen Cuan Jutaan Rupiah

Sebarkan artikel ini

MOJOSARI – Usaha bebek potong masih menjadi salah satu pilihan masyarakat untuk meraup penghasilan. Di tengah harga jual yang relatif stabil, pelaku usaha dituntut mampu mengendalikan biaya pakan dan menjaga kesehatan ternak agar keuntungan tetap terjaga.

 

Hal itu dijalani Nizar, salah satu pengusaha bebek potong di Mojosari, Kabupaten Mojokerto. Dalam satu periode pemeliharaan, ia mampu membesarkan sekitar 150 ekor bebek hingga siap dipasarkan.

 

Dari jumlah tersebut, omzet kotor yang diperoleh dalam sekali panen bisa mencapai sekitar Rp9 juta. Setelah dikurangi biaya produksi, Nizar mengaku masih memperoleh keuntungan bersih sekitar Rp2 juta setiap periode panen.

 

“Kalau sekali panen sekitar 150 ekor, omzet kotornya bisa sampai Rp9 juta. Untuk keuntungan bersih kurang lebih Rp2 juta,” kata Nizar.

 

Dipelihara Sejak Bibit Sehari

 

Nizar mengatakan, proses pemeliharaan dimulai sejak bebek masih berusia satu hari. Bibit diperoleh dengan harga sekitar Rp12.000 per ekor.

 

Pada usia satu hingga delapan hari, bebek masih berada dalam tahap pembibitan. Setelah melewati fase tersebut, ternak mulai masuk ke tahap pembesaran.

 

Fase pembesaran berlangsung mulai usia sembilan hari hingga sekitar 31 hari. Pada usia tersebut, bebek dinilai sudah mencapai ukuran yang layak untuk dipanen dan dipasarkan sebagai bebek konsumsi.

 

Namun, untuk mencapai masa panen, kebutuhan pakan menjadi salah satu komponen biaya terbesar.

 

Untuk memelihara sekitar 150 ekor bebek, Nizar membutuhkan kurang lebih 12 karung pakan selama satu periode. Dengan harga sekitar Rp400.000 per karung, biaya pakan yang harus dikeluarkan mencapai sekitar Rp4,8 juta.

 

Setelah memasuki masa panen, bebek dijual dengan harga sekitar Rp27.000 per kilogram. Dari hasil penjualan tersebut, omzet kotor dalam satu periode dapat mencapai sekitar Rp9 juta.

 

Setelah memperhitungkan berbagai biaya produksi, termasuk kebutuhan pakan dan perawatan, keuntungan bersih yang diperoleh Nizar berada di kisaran Rp2 juta per panen.

 

Musim Hujan Jadi Tantangan

 

Meski harga jual relatif stabil, bukan berarti usaha bebek potong tanpa kendala. Cuaca menjadi salah satu faktor yang cukup menentukan keberhasilan pemeliharaan.

 

Nizar mengatakan, memasuki musim penghujan, perawatan harus dilakukan lebih intensif. Kondisi lingkungan yang lembap membuat kesehatan bebek perlu mendapat perhatian lebih agar tidak mengganggu pertumbuhan hingga masa panen.

 

“Kalau musim hujan perawatannya harus lebih diperhatikan. Biasanya diberi obat dan vitamin, kemudian lingkungan juga dilakukan penyemprotan,” jelasnya.

 

Perawatan tersebut dilakukan sejak fase pembibitan hingga bebek siap dipanen. Kebersihan lingkungan, kondisi kandang, kesehatan ternak, serta kecukupan pakan menjadi sejumlah hal yang harus diperhatikan secara rutin.

 

Dengan masa pemeliharaan sekitar satu bulan, bisnis bebek potong membutuhkan ketelatenan dalam mengatur kebutuhan pakan dan menjaga kondisi ternak. Kesalahan dalam perawatan dapat berdampak pada pertumbuhan bahkan berpotensi menekan keuntungan.

 

Bagi Nizar, stabilitas harga jual menjadi salah satu faktor penting untuk mempertahankan usaha. Di tengah biaya produksi yang harus dikendalikan dan kondisi cuaca yang sulit diprediksi, efisiensi pemeliharaan menjadi kunci agar setiap periode panen tetap memberikan keuntungan.

 

Usaha bebek potong pun menjadi gambaran bagaimana sektor peternakan skala kecil masih menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat, dengan peluang keuntungan yang tetap terbuka selama biaya produksi dan kesehatan ternak dapat dikelola dengan baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner BlogPartner Backlink.co.id