Kota Mojokerto | lenterainspiratif.id – Peran Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) di tingkat kecamatan dinilai sangat strategis dalam upaya penanganan stunting. Sebagai ujung tombak pemerintah yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, TP PKK aktif mengedukasi sekaligus menggerakkan partisipasi warga dalam pencegahan stunting.
Dalam lima tahun terakhir, Kota Mojokerto mencatat tren penurunan prevalensi stunting yang signifikan. Pada tahun 2019, angka stunting tercatat sebesar 9,04 persen, kemudian menurun menjadi 7,71 persen pada 2020, 4,84 persen pada 2021, 3,12 persen pada 2022, 2,04 persen pada 2023, dan mencapai 1,54 persen pada 2024. Penurunan ini merupakan hasil kerja kolaboratif berbagai pihak, sejalan dengan instruksi Presiden, termasuk kontribusi aktif TP PKK yang terus menggerakkan kader di lapangan.
TP PKK berperan sebagai agen perubahan dengan mengedepankan pemberdayaan masyarakat. Melalui berbagai kegiatan sosialisasi, kader PKK secara konsisten memberikan edukasi tentang bahaya stunting serta langkah-langkah pencegahannya, guna mendukung tercapainya tujuan pembangunan kesehatan.
Menjawab urgensi permasalahan stunting, serta merujuk pada Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan dan Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting, Kecamatan Prajuritkulon bersama TP PKK setempat meluncurkan inovasi bertajuk “Sambal Bakso PKK” (Sambang Kelurahan Bakti Sosial Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga).
Program ini merupakan kegiatan pemberian bantuan secara berkala kepada masyarakat yang mengalami stunting, wasting, serta kelompok lanjut usia. Pendanaan program bersumber dari swadaya, dengan pelaksanaan yang dijadwalkan setiap bulan secara bergilir di enam kelurahan di wilayah Kecamatan Prajuritkulon.
Ketua TP PKK Kecamatan Prajuritkulon, Nor Afifah, menyampaikan bahwa program ini merupakan wujud sinergi antara pemerintah kecamatan dan TP PKK.
“Sambal Bakso PKK ini adalah kolaborasi antara Kecamatan Prajuritkulon dan TP PKK Kecamatan Prajuritkulon. Dengan adanya inovasi ini, kami berharap dapat membantu target Pemerintah Kota Mojokerto untuk secepatnya mencapai zero stunting,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, ketua TP PKK kecamatan dan kelurahan terlibat langsung dalam kegiatan yang digelar setiap bulan setelah pertemuan PKK Kota Mojokerto. Penentuan lokasi kelurahan dilakukan melalui mekanisme undian guna menjamin pemerataan dan keadilan.
Adapun bantuan yang disalurkan berupa paket sembako, antara lain telur sebanyak 1,5 kilogram, beras 5 kilogram, minyak goreng 2 liter, serta sayuran. Seluruh bantuan tersebut diperoleh dari sumber dana swadaya sebagai bentuk kepedulian dan gotong royong masyarakat.
Melalui inovasi ini, diharapkan upaya penanganan stunting di Kota Mojokerto semakin optimal, sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam mendukung peningkatan kesejahteraan keluarga. ( Roe )













