Oleh: Nurangsih S. Hasan (Penulis & Akademisi)
Ada kalanya seseorang menulis bukan karena memiliki terlalu banyak kata, melainkan karena terlalu banyak hal yang ingin disampaikan.
Menulis, pada titik tertentu, bukan lagi sekadar aktivitas intelektual. Ia menjadi cara untuk membaca zaman, merespons perubahan, menyimpan ingatan, sekaligus menyuarakan sesuatu yang mungkin terlalu lama terdiam.
Semangat semacam itu terasa dalam rencana peluncuran empat karya terbaru penulis sekaligus akademisi, Nurangsih S. Hasan. Empat karya tersebut hadir dengan tema yang berbeda, tetapi sesungguhnya berbicara tentang persoalan yang sama: manusia dan pergulatannya menghadapi kehidupan.
Dari pendidikan karakter hingga dunia digital, dari identitas masyarakat Timur hingga luka manusia yang tersembunyi, karya-karya Nurangsih memperlihatkan bahwa kehidupan tidak pernah sesederhana apa yang tampak di permukaan.
Salah satu karya yang menarik perhatian adalah Pendidikan Karakter VS Konten: “Pertarungan Moral di Tengah Dunia yang Haus Viral”, yang ditulis bersama Ketua Yayasan UNUTARA, Asmra Bani, dan Wakil Rektor II UNUTARA, Saleh Alhadad.
Buku ini terasa relevan dengan situasi hari ini. Dunia digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi, memperoleh informasi, bahkan membentuk identitas. Persoalannya, ketika angka tayangan, jumlah pengikut, popularitas, dan viralitas mulai dianggap sebagai ukuran keberhasilan, di mana posisi karakter?
Pertanyaan itu penting, sebab kemajuan teknologi tidak otomatis membuat manusia semakin beradab.
Kita hidup dalam zaman ketika sesuatu yang benar belum tentu menjadi sesuatu yang ramai, sementara sesuatu yang kontroversial justru dapat dengan cepat mendapatkan perhatian. Dalam situasi seperti ini, pendidikan karakter menghadapi tantangan yang jauh lebih besar daripada sekadar persoalan ruang kelas.
Karakter diuji di ruang digital. Etika diuji oleh kecepatan informasi. Empati diuji oleh budaya komentar. Dan tanggung jawab diuji oleh kebiasaan membagikan sesuatu sebelum memastikan kebenarannya.
Di sinilah buku tersebut menemukan relevansinya: mengingatkan bahwa manusia tidak boleh kehilangan nilai hanya karena dunia bergerak semakin cepat.
Timur yang Bercerita
Namun kegelisahan Nurangsih tidak berhenti pada persoalan pendidikan dan dunia digital.
Melalui Timur dalam Hikayat, ia membawa pembaca ke ruang yang berbeda—ruang tentang identitas, sejarah, budaya, pengalaman, dan kehidupan masyarakat Timur.
Selama ini, Timur kerap hadir dalam narasi Indonesia dengan berbagai label. Tetapi Timur bukan sekadar koordinat geografis. Timur adalah ingatan. Ia adalah kampung-kampung, laut, tradisi, bahasa, perjuangan, kehilangan, dan cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu, menghadirkan Timur melalui tulisan sesungguhnya adalah pekerjaan penting.
Sebab sebuah masyarakat tidak hanya membutuhkan pembangunan secara fisik, tetapi juga membutuhkan ruang untuk menceritakan dirinya sendiri.
Timur dalam Hikayat menjadi menarik karena menawarkan kemungkinan tersebut. Ia dapat menjadi jembatan antara cerita-cerita lokal dengan pembaca yang lebih luas. Lebih dari itu, ia menjadi upaya untuk merawat ingatan agar kisah tentang Timur tidak hilang ditelan perubahan zaman.
Sebab ketika sebuah cerita tidak ditulis, ia berisiko hilang. Ketika sebuah pengalaman tidak direkam, generasi berikutnya mungkin hanya mengenalnya sebagai serpihan ingatan.
Luka yang Tidak Selalu Terlihat
Kemudian ada Diam-Diam Hancur, Diam-Diam Bertahan.
Judulnya saja sudah membawa kita pada sebuah kenyataan yang sangat manusiawi: tidak semua orang yang sedang terluka terlihat sedang berjuang.
Ada manusia yang tetap bekerja ketika hatinya sedang berantakan. Ada yang tetap tersenyum ketika kehidupannya sedang tidak baik-baik saja. Ada yang memilih diam bukan karena tidak memiliki cerita, tetapi karena tidak tahu kepada siapa cerita itu harus disampaikan.
Di tengah kehidupan yang semakin menuntut manusia untuk terlihat kuat, karya ini seperti mengingatkan bahwa rapuh juga bagian dari menjadi manusia.
Tidak semua perjuangan harus dipertontonkan. Tidak semua luka membutuhkan penjelasan. Dan tidak semua orang yang diam berarti menyerah.
Barangkali, sebagian manusia justru sedang melakukan perjuangan terbesar dalam hidupnya secara diam-diam.
Satu Karya Masih Menjadi Rahasia
Dari empat karya yang akan diluncurkan, satu karya lainnya masih dirahasiakan oleh Nurangsih S. Hasan.
Judul dan detail karya keempat sengaja belum dibuka kepada publik. Ia disimpan sebagai kejutan dalam agenda peluncuran.
Menariknya, kerahasiaan tersebut justru menambah rasa ingin tahu. Di tengah zaman ketika hampir semua hal ingin segera diketahui, sedikit misteri terkadang menjadi sesuatu yang menarik.
Namun terlepas dari apa judul karya keempat tersebut, tiga karya yang telah diperkenalkan sudah memberikan gambaran tentang arah kegelisahan intelektual Nurangsih: manusia, moral, identitas, luka, pendidikan, dan perubahan sosial.
Benang merahnya jelas.
Tulisan tidak ditempatkan hanya sebagai produk intelektual, tetapi sebagai ruang perenungan.
Ketika Buku Menjadi Suara
Ada satu hal yang patut diapresiasi dari produktivitas seorang penulis: keberanian untuk terus bertanya.
Sebab penulis yang baik bukan hanya mereka yang mampu merangkai kata dengan indah, tetapi juga mereka yang tidak berhenti mempertanyakan keadaan.
Mengapa karakter semakin mudah dikalahkan oleh popularitas?
Mengapa cerita tentang Timur masih perlu terus disuarakan?
Mengapa banyak manusia memilih menyembunyikan lukanya?
Dan bagaimana tulisan dapat membantu manusia menemukan kembali makna di tengah perubahan zaman?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu membuat buku tidak berhenti sebagai benda yang memenuhi rak.
Buku dapat menjadi percakapan.
Buku dapat menjadi kritik.
Buku dapat menjadi cermin.
Dan dalam konteks karya-karya Nurangsih, buku juga dapat menjadi suara bagi mereka yang mungkin tidak memiliki ruang untuk berbicara.
Pada akhirnya, empat karya ini bukan sekadar empat buku dengan empat tema berbeda. Ia adalah empat bentuk kegelisahan yang lahir dari pembacaan terhadap kehidupan.
Pendidikan Karakter VS Konten berbicara tentang moral di tengah derasnya arus digital.
Timur dalam Hikayat berbicara tentang identitas dan pentingnya merawat cerita dari Timur.
Diam-Diam Hancur, Diam-Diam Bertahan berbicara tentang manusia dan perjuangan yang sering tidak terlihat.
Sementara karya keempat masih menunggu waktunya untuk diperkenalkan.
Keempatnya mungkin memiliki jalan cerita yang berbeda. Namun semuanya bermuara pada satu keyakinan sederhana: tulisan bukan sekadar kumpulan kata.
Tulisan adalah cara manusia meninggalkan jejak.
Ia merekam zaman ketika ingatan mulai memudar. Ia menyuarakan mereka yang terlalu lama sunyi. Ia mempertanyakan sesuatu yang dianggap biasa. Dan, pada saat yang sama, ia dapat menjadi pesan bagi generasi yang bahkan belum lahir.
Barangkali itulah makna terdalam dari produktivitas seorang penulis.
Bukan tentang berapa banyak buku yang selesai ditulis, melainkan berapa banyak kegelisahan yang berhasil diubah menjadi percakapan.
Dan jika empat karya Nurangsih S. Hasan mampu membuka percakapan itu, maka peluncurannya bukan sekadar agenda literasi.
Ia adalah sebuah ajakan untuk berhenti sejenak, membaca, berpikir, lalu bertanya kepada diri sendiri:
Di tengah dunia yang semakin ramai, masihkah kita mampu mendengar suara yang paling penting—suara kemanusiaan?













