BisnisJawa Timur

Bertahan Sejak 1999, Usaha Batu Bata di Mojokerto Masih Andalkan Proses Tradisional

×

Bertahan Sejak 1999, Usaha Batu Bata di Mojokerto Masih Andalkan Proses Tradisional

Sebarkan artikel ini

Para pekerja menangani berbagai bagian pekerjaan, mulai dari proses pencetakan, pengeringan, pemindahan, hingga penataan batu bata untuk masuk ke proses pembakaran maupun sebelum dikirim kepada konsumen.

“Sekarang ada sekitar 10 karyawan yang ikut bekerja. Mereka membantu proses produksi dari awal sampai batu bata siap untuk dijual,” kata Celsia.

Dari sisi pemasaran, usaha tersebut masih memiliki permintaan. Dalam satu kali pengangkutan, penjualan batu bata dapat menghasilkan omzet sekitar Rp5 juta lebih, tergantung jumlah dan kondisi pemasaran.

Jika seluruh persediaan batu bata berhasil terjual, omzet yang diperoleh bisa mencapai kurang lebih Rp10 juta.

“Kalau sekali angkut, omzetnya bisa sekitar Rp5 juta lebih. Kalau semua stok bisa terjual, kurang lebih bisa sampai Rp10 juta,” ungkapnya.

Namun, Celsia mengakui bahwa mempertahankan usaha yang telah berjalan sejak 1999 bukan hanya soal menghitung pemasukan.

Ada kebutuhan untuk terus menjaga keberlangsungan produksi sekaligus mempertahankan pekerjaan bagi orang-orang yang selama ini ikut menggantungkan penghasilan dari usaha tersebut.

“Selain untuk memenuhi kebutuhan, usaha ini juga menjadi sumber pekerjaan bagi karyawan,” ujarnya.

Karena itu, selama masih ada permintaan terhadap batu bata, Celsia memilih untuk tetap menjalankan usaha tersebut.

Menurutnya, perkembangan material bangunan memang membuat pilihan masyarakat semakin beragam. Namun, batu bata masih menjadi salah satu material yang digunakan dalam pembangunan rumah maupun berbagai bangunan lainnya.

Kondisi itu membuat produksi tetap dipertahankan meski harus menghadapi perubahan zaman.

Puluhan tahun menjalankan usaha juga membuat aktivitas produksi batu bata menjadi bagian dari keseharian keluarga Celsia.

Dari proses mencetak, menjemur hingga membakar, semuanya membutuhkan waktu. Tidak ada proses instan untuk menghasilkan batu bata yang siap dipasarkan.

“Yang penting usaha ini tetap berjalan. Kami berusaha mempertahankannya selama masih ada yang membutuhkan,” tutur Celsia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner BlogPartner Backlink.co.id