Jawa Timurkuliner

Menikmati Sepiring Nasi Jagung “Tombo Luweh” Mbak Eka, Penawar Lapar di Lereng Welirang

×

Menikmati Sepiring Nasi Jagung “Tombo Luweh” Mbak Eka, Penawar Lapar di Lereng Welirang

Sebarkan artikel ini

MOJOKERTO, LenteraInspiratif.id — Aroma kayu bakar berpadu dengan gurihnya olahan jagung menyambut pengunjung di Desa Sendi, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Di tengah sejuknya kawasan lereng Gunung Welirang, Warung Nasi Jagung “Tombo Luweh” milik Mbak Eka menawarkan sajian tradisional yang masih mempertahankan cara pengolahan sederhana.

 

Bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan Pacet, sepiring nasi jagung hangat menjadi salah satu pilihan untuk mengisi perut setelah menikmati suasana pegunungan.

 

Nama “Tombo Luweh” sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti penawar rasa lapar. Nama tersebut menggambarkan menu utama yang disajikan warung tersebut, yakni nasi jagung dengan beragam lauk dan sambal tradisional.

 

“Nasi jagung ini bukan sekadar makanan ganjal perut, tapi sudah jadi bagian dari identitas warga Desa Sendi,” ujar Mbak Eka.

 

Untuk menghasilkan nasi jagung dengan cita rasa khas, Mbak Eka masih menggunakan proses pengolahan secara tradisional. Jagung giling kering terlebih dahulu direndam agar teksturnya lebih lunak.

 

Setelah itu, jagung dikukus hingga setengah matang sebelum dicampur dengan beras yang telah dicuci bersih. Campuran tersebut kemudian dikukus kembali hingga matang.

 

Salah satu yang membedakan proses memasaknya adalah penggunaan tungku berbahan bakar kayu. Cara tersebut menghasilkan aroma khas yang menyatu dengan nasi jagung ketika disajikan dalam keadaan hangat.

 

Nasi jagung kemudian disajikan bersama sejumlah lauk secara terpisah. Pengunjung dapat memilih dan mengatur sendiri lauk yang ingin disantap bersama nasi.

 

Dalam satu sajian, tersedia tempe goreng, tahu, aneka gorengan hingga ikan goreng. Hidangan tersebut dilengkapi sayuran hijau yang direbus singkat, seperti selada air atau daun pakis yang banyak ditemukan di kawasan pegunungan.

 

Sebagai pelengkap, tersedia sambal terasi yang diulek dan disajikan menggunakan cobek. Perpaduan nasi jagung hangat, lauk goreng, sayuran serta sambal memberikan cita rasa sederhana yang khas masakan pedesaan.

 

Penyajian lauk secara terpisah juga memberikan pengalaman tersendiri bagi pengunjung. Mereka bisa meracik sendiri kombinasi nasi, lauk, sayuran dan sambal sesuai selera.

 

Di tengah semakin beragamnya pilihan kuliner modern, nasi jagung menjadi salah satu makanan tradisional yang masih bertahan. Bahan dasarnya pun dekat dengan kehidupan masyarakat pedesaan dan hasil pertanian setempat.

 

Menikmati nasi jagung di Warung “Tombo Luweh” akhirnya bukan hanya tentang mengisi perut. Sajian sederhana tersebut menjadi bagian dari pengalaman menikmati suasana pedesaan di lereng Welirang sekaligus melihat bagaimana tradisi kuliner lokal masih dipertahankan.

 

Pewarta: Samsuddin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner BlogPartner Backlink.co.id