Sejarah

KH Wahab Chasbullah: Ulama Pejuang, Diplomat, dan Penggerak Kemandirian Bangsa

×

KH Wahab Chasbullah: Ulama Pejuang, Diplomat, dan Penggerak Kemandirian Bangsa

Sebarkan artikel ini

Prinsip berdikari kemudian menjadi salah satu fondasi penting NU.

 

Wahab bahkan membagi strategi politik ke dalam empat bidang, yakni perdagangan, pertukangan, pertanian dan pemerintahan. Gagasan tersebut menunjukkan bahwa perjuangan tidak cukup dilakukan melalui ceramah atau gerakan politik, tetapi juga membutuhkan kekuatan ekonomi dan sumber daya manusia.

 

Pemikiran itu kemudian mendapatkan bentuk nyata dalam pembaruan pendidikan Pesantren Tebuireng yang dilakukan KH Wahid Hasyim pada 1938.

 

Sejumlah pendidikan kejuruan dikembangkan, mulai perdagangan, pertanian, pertukangan hingga hukum pemerintahan. Langkah tersebut menjadi upaya mempersiapkan generasi pesantren agar mampu memasuki berbagai sektor kehidupan modern.

 

Dengan demikian, perjuangan membangun bangsa tidak hanya dilakukan melalui politik, tetapi juga melalui pendidikan dan ekonomi.

 

Dari Pesantren ke Medan Revolusi

 

Setelah Indonesia merdeka, perjuangan belum selesai. Ancaman datang ketika pasukan Sekutu dan Belanda mulai memasuki Surabaya pada Oktober 1945.

 

Presiden Soekarno kemudian meminta pandangan KH Hasyim Asy’ari mengenai kewajiban mempertahankan tanah air. KH Hasyim selanjutnya mengajak sejumlah ulama, termasuk KH Wahab Chasbullah dan KH Bisri Syansuri, untuk membahas situasi tersebut.

 

Para ulama dari Jawa dan Madura dikumpulkan di Bubutan, Surabaya, pada 22-23 Oktober 1945.

 

Pertemuan tersebut kemudian melahirkan Resolusi Jihad. KH Wahab disebut memimpin jalannya rapat setelah sebelumnya KH Hasyim Asy’ari memberikan amanah mengenai kewajiban membela agama, bangsa dan negara.

 

Menurut sejumlah catatan sejarah, Wahab turut menyusun rancangan teks Resolusi Jihad dengan meminta pertimbangan KH Hasyim Asy’ari dan para ulama yang hadir.

 

Pada 23 Oktober 1945, KH Hasyim Asy’ari membacakan Resolusi Jihad. Seruan tersebut menjadi salah satu pemantik mobilisasi masyarakat dan kalangan pesantren untuk menghadapi pasukan Sekutu dan Belanda.

 

Pesantren di berbagai wilayah Jawa dan Madura kemudian menjadi basis bagi Hizbullah dan Sabilillah.

 

Beberapa hari kemudian, Surabaya meledak dalam pertempuran besar pada 10 November 1945. Semangat perlawanan yang telah dibangun sebelumnya membuat masyarakat bersiap menghadapi ancaman terhadap kemerdekaan.

 

Wahab Chasbullah juga terus terlibat dalam perjuangan setelah pertempuran tersebut. Ia membantu menggalang dana untuk kebutuhan militer, berkomunikasi dengan kelompok gerilya serta ikut mengoordinasikan perekrutan dan pelatihan santri di Jawa Timur.

 

Keterlibatannya tidak hanya berhenti pada tingkat nasional. Di Jombang, Wahab juga menjalankan tugas membentuk kekuatan perjuangan lokal.

 

Atas arahan KH Hasyim Asy’ari, ia menggerakkan para pemuda untuk membangun Laskar Hizbullah Jombang. Gerakan tersebut kemudian berkembang menjadi bagian dari kekuatan perjuangan umat Islam di Jawa Timur.

 

Saat pertempuran Surabaya berlangsung, pasukan Hizbullah dari wilayah Karesidenan Surabaya dihimpun ke dalam Divisi Sunan Ampel yang dipimpin A Wahib Wahab, putra KH Wahab Chasbullah.

 

Rangkaian panjang tersebut menggambarkan sosok Wahab Chasbullah sebagai ulama yang memiliki cakrawala perjuangan luas. Ia bergerak melalui pendidikan, ekonomi, organisasi, diplomasi hingga perjuangan bersenjata.

 

Perannya dalam sejarah Indonesia kemudian mendapat pengakuan negara. Pada 7 November 2014, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada KH Wahab Chasbullah.

 

Bagi sejarah NU dan Indonesia, Wahab bukan sekadar pendiri organisasi. Ia adalah gambaran ulama yang mampu membaca perubahan zaman, membangun jaringan, menjaga kemandirian dan memilih strategi yang berbeda sesuai tantangan yang dihadapi.

 

Dari meja diplomasi hingga medan perjuangan, dari pesantren hingga organisasi ekonomi, jejak Wahab Chasbullah memperlihatkan bahwa perjuangan mempertahankan agama dan bangsa dapat ditempuh melalui banyak jalan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner BlogPartner Backlink.co.id