Membangun Kemandirian dari Ekonomi
Perjuangan Wahab tidak hanya berlangsung di arena politik. Sejak kembali dari Makkah pada 1914, ia sudah aktif membangun gerakan masyarakat.
Kondisi rakyat yang miskin, tertinggal dan sulit mendapatkan pendidikan mendorongnya terlibat dalam pergerakan nasional.
Pada 1916, Wahab bersama sejumlah tokoh muda mendirikan Nahdlatul Wathan. Organisasi ini menjadi sarana untuk menumbuhkan kesadaran kebangsaan.
Dua tahun berikutnya, ia bersama tokoh pergerakan seperti Dr. Soetomo mendirikan Tasywirul Afkar. Forum tersebut menjadi ruang untuk mendiskusikan berbagai persoalan pemikiran dan kebangsaan.
Namun, gerakan yang berseberangan dengan pemerintah kolonial tentu tidak memperoleh dukungan dana dari Belanda. Kondisi itu justru mendorong Wahab dan para ulama memikirkan sumber pembiayaan sendiri.
Pada 1918, Nahdlatut Tujjar didirikan. Gerakan para saudagar ini diarahkan untuk memperkuat basis ekonomi sekaligus mendukung perjuangan keagamaan dan kebangsaan.
KH Hasyim Asy’ari dipercaya menjadi pemimpin, sedangkan Wahab menjalankan tugas sebagai sekretaris dan bendahara. KH Bisri Syansuri juga menjadi bagian dari gerakan tersebut.
Dari sinilah terlihat bahwa gagasan kemandirian bukan sesuatu yang baru muncul setelah NU berdiri. Sejak awal, para pendirinya telah menyadari bahwa organisasi akan mudah dipengaruhi jika kehidupannya bergantung kepada pihak lain.













