Diplomasi Menghadapi Jepang
Kemampuan yang sama kembali digunakan ketika Jepang menahan sejumlah ulama, termasuk KH Hasyim Asy’ari.
Wahab Chasbullah bergerak tanpa mengenal lelah. Ia melakukan perjalanan ke berbagai daerah, dari Surabaya hingga Solo, Jakarta dan Purwokerto, untuk mencari jalan keluar atas penahanan para ulama.
Diplomasi tersebut akhirnya membuahkan hasil. KH Hasyim Asy’ari dibebaskan dan bahkan kemudian dipercaya Jepang menduduki posisi penting dalam urusan keagamaan melalui Shumubu.
Cara Wahab menghadapi Belanda maupun Jepang memperlihatkan gaya perjuangan yang khas. Ia tidak selalu memilih benturan langsung, tetapi menggabungkan keberanian, jaringan, kesabaran dan argumentasi.
Menariknya, kemampuan tersebut tidak lahir dari pendidikan bergaya Barat. Pengetahuan Wahab justru berkembang dari tradisi pesantren dan pembelajaran sejarah serta kebudayaan Nusantara.
Ia mempelajari perjalanan Mataram Kuno, tokoh-tokoh seperti Airlangga, Joyoboyo dan Gajah Mada. Strategi Wali Songo juga menjadi salah satu sumber pemikirannya. Begitu pula pengalaman perjuangan Pangeran Diponegoro.
Semua pengetahuan itu kemudian dirangkai menjadi cara berpikir yang membuatnya mampu menghadapi berbagai situasi politik.
Ketika Indonesia berhadapan dengan persoalan Irian Barat, misalnya, Wahab kembali memainkan peran melalui gagasan politiknya.
Presiden Soekarno ketika itu menghadapi serangan opini dari luar negeri. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Foster Dulles turut melontarkan narasi bahwa upaya merebut Irian Barat merupakan manuver politik untuk menutupi persoalan ekonomi dan politik dalam negeri.
Narasi tersebut kemudian menyebar melalui media Barat dan berbagai tulisan.
Wahab Chasbullah merespons situasi itu dengan menawarkan gagasan yang disebut “diplomasi cancut taliwondo”. Konsep tersebut pada dasarnya mendorong penguatan politik, ekonomi dan pendidikan secara bersamaan agar pemerintah memiliki fondasi kuat menghadapi tekanan dan propaganda.













