Sejarah, LenteraInspiratif.id – Nama KH Wahab Chasbullah tidak bisa dilepaskan dari perjalanan panjang Nahdlatul Ulama dan sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Ia bukan hanya dikenal sebagai ulama pesantren, tetapi juga sebagai organisator, diplomat, penggerak ekonomi, sekaligus tokoh yang ikut mengambil peran dalam mempertahankan kemerdekaan.
Jejak perjuangannya bahkan telah terbentang jauh sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Salah satu episode penting terjadi ketika perubahan kekuasaan berlangsung di kawasan Hijaz pada 1924.
Abdul Aziz ibn Sa’ud bersama pasukannya berhasil menguasai wilayah Semenanjung Arab dan mengambil alih Makkah serta Madinah dari pemerintahan Syarif Husain. Pergantian penguasa tersebut kemudian diikuti penerapan kebijakan keagamaan yang lebih bercorak Wahabi.
Kebijakan itu membuat praktik keagamaan yang berbeda dengan pemahaman penguasa baru menghadapi pembatasan. Kekhawatiran para ulama semakin meningkat setelah muncul kabar mengenai rencana pembongkaran sejumlah peninggalan Islam, termasuk makam ulama, sahabat Nabi hingga kawasan makam Rasulullah SAW.
Bagi ulama pesantren di Indonesia, persoalan tersebut tidak dapat dianggap sepele. Mereka berupaya mencari jalan agar keberatan tersebut bisa disampaikan langsung kepada Raja Abdul Aziz.
KH Wahab Chasbullah semula diusulkan menjadi salah satu delegasi dalam Muktamar Khilafah di Arab Saudi. Namun, nama Wahab kemudian dicoret karena organisasi pesantren yang menaunginya dinilai belum memiliki bentuk kelembagaan resmi.
Peristiwa itu justru menjadi pemicu konsolidasi para ulama. Mereka menyadari bahwa perjuangan membutuhkan organisasi yang memiliki kekuatan dan representasi yang jelas.
Dari proses tersebut lahir Komite Hijaz. Tidak lama kemudian, para ulama sepakat mendirikan organisasi yang lebih besar sebagai wadah perjuangan. Pada 31 Januari 1926, Nahdlatul Ulama resmi berdiri.
Setelah NU terbentuk, KH Wahab Chasbullah bersama Syekh Ghonaim Al-Misri dipercaya menjalankan misi ke Arab Saudi untuk menemui Raja Abdul Aziz ibn Sa’ud.
Diplomasi tersebut tidak sia-sia. Sejumlah tuntutan yang dibawa delegasi NU mendapat respons positif. Salah satunya terkait kekhawatiran pembongkaran Maqam Nabi Muhammad SAW. Selain itu, keberadaan mazhab empat tetap memperoleh ruang di Haramain, meskipun terdapat pembatasan terhadap aktivitas pengajaran dan kepemimpinan keagamaan.
Keberhasilan tersebut menunjukkan kemampuan Wahab dalam membangun komunikasi dengan pihak yang memiliki kekuasaan. Pengalamannya selama bertahun-tahun di Arab menjadi modal penting.
Ia memahami karakter masyarakat setempat, mengenal para ulama, tokoh, pangeran hingga jaringan sosial yang berpengaruh. Relasi yang dibangunnya sejak lama menjadi pintu masuk untuk melakukan pendekatan kepada penguasa.
Kemampuan membaca situasi dan membangun komunikasi menjadi karakter kuat Wahab Chasbullah. Ia berkali-kali menghadapi persoalan besar dengan cara diplomasi.
Ketika pemerintah kolonial Belanda membatasi kegiatan keagamaan yang melibatkan massa di masjid, misalnya, Wahab memilih mendatangi langsung Gubernur Jenderal Van der Plas di Batavia.
Abdul Mun’im DZ dalam catatannya pada 2015 menggambarkan keberanian Wahab ketika berhadapan dengan sistem pengamanan pejabat kolonial. Ia bahkan harus menghadapi anjing penjaga sebelum akhirnya berhasil bertemu dengan Van der Plas.
Dengan pembawaan yang tenang dan ramah, Wahab mampu mencairkan suasana pertemuan. Hasilnya, pembatasan kegiatan keagamaan tersebut dapat dilonggarkan dan umat Islam kembali memperoleh kesempatan melakukan dakwah secara terbuka.













