MOJOKERTO, LenteraInspiratif.id — Petirtaan Jolotundo di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, menjadi salah satu peninggalan sejarah yang berada di lereng Gunung Penanggungan. Selain memiliki nilai arkeologis, situs ini dikenal masyarakat karena keberadaan mata air yang jernih dan debitnya relatif tetap.
Petirtaan kuno tersebut hingga kini masih menjadi tujuan wisata sejarah sekaligus tempat yang memiliki nilai spiritual bagi sebagian masyarakat. Pengunjung datang untuk melihat peninggalan masa kerajaan, menikmati suasana alam, maupun mengambil air dari sumber yang berada di kawasan petirtaan.
Menurut Sunaji, juru pelihara Petirtaan Jolotundo, kualitas air menjadi salah satu hal yang membuat situs tersebut dikenal luas oleh masyarakat.
“Air di sini dipercaya memiliki kualitas yang sangat baik dan kandungan mineral yang tinggi,” ujar Sunaji saat ditemui di kawasan Petirtaan Jolotundo.
Di tengah masyarakat berkembang klaim bahwa air Jolotundo memiliki kualitas nomor dua setelah air Zamzam. Informasi tersebut juga pernah muncul dalam berbagai tulisan mengenai situs ini dan dikaitkan dengan penelitian yang disebut dilakukan pada 1994.
Namun, klaim tersebut perlu disikapi secara hati-hati. Belum ditemukan publikasi ilmiah atau pernyataan resmi dari lembaga pemerintah yang secara definitif menetapkan air Jolotundo sebagai air dengan kualitas terbaik nomor dua di dunia. Karena itu, informasi tersebut lebih tepat disebut sebagai klaim atau kepercayaan yang berkembang di masyarakat mengenai kualitas mata air Jolotundo.
Selain kualitas air yang dipercaya baik, mata air di kawasan tersebut juga dikenal memiliki debit yang relatif stabil, termasuk ketika memasuki musim kemarau. Kondisi tersebut membuat sumber air Jolotundo tetap dimanfaatkan hingga sekarang.
Bagi sebagian masyarakat, air Jolotundo juga mempunyai nilai spiritual. Sejumlah pengunjung datang untuk mandi, melakukan ritual tertentu, atau membawa pulang air dari kawasan petirtaan.
Peninggalan dari Masa Kerajaan
Petirtaan Jolotundo memiliki nilai sejarah yang berkaitan dengan perkembangan kerajaan di Jawa Timur. Situs ini diperkirakan telah dibangun sekitar tahun 977 Masehi atau 899 Saka. Perkiraan tersebut antara lain didasarkan pada pahatan angka tahun yang terdapat pada bagian bangunan petirtaan.
Jolotundo juga kerap dikaitkan dengan Prabu Airlangga dan Kerajaan Kahuripan. Sejumlah sumber menyebut pembangunan petirtaan berkaitan dengan Raja Udayana dari Bali yang menikah dengan Gunapriya Dharmapatni dan memiliki putra bernama Airlangga.
Dalam sejumlah kisah sejarah, pembangunan Petirtaan Jolotundo kemudian dikaitkan dengan Airlangga. Airlangga sendiri diketahui lahir pada 991 Masehi dan kelak menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah kerajaan di Jawa Timur.
Secara fisik, Petirtaan Jolotundo memiliki struktur batu andesit dengan pahatan serta sistem saluran air. Keberadaan struktur tersebut menunjukkan adanya kemampuan masyarakat masa lalu dalam membangun dan mengelola sumber air untuk berbagai kebutuhan.
Jolotundo menjadi salah satu peninggalan penting dari periode kerajaan di Jawa Timur sebelum berkembangnya Majapahit. Keberadaannya juga memperlihatkan bagaimana unsur air, lingkungan, arsitektur, dan kehidupan keagamaan memiliki keterkaitan dalam kebudayaan masyarakat masa lalu.
Seiring perkembangan zaman, Petirtaan Jolotundo tidak hanya dipandang sebagai situs arkeologi. Kawasan ini berkembang menjadi tujuan wisata sejarah dan budaya yang masih memiliki nilai spiritual bagi sebagian pengunjung.
Hingga kini, Petirtaan Jolotundo menjadi bagian dari warisan sejarah Kabupaten Mojokerto yang mempertemukan aspek sejarah, budaya, lingkungan, dan tradisi masyarakat. Pelestarian bangunan kuno sekaligus menjaga keberadaan sumber air menjadi bagian penting agar peninggalan tersebut tetap dapat dipelajari dan dinikmati generasi mendatang.
Pewarta: Samsuddin













