Sejarah, LenteraInspiratif.id – Petasan kertas merupakan salah satu tanda kemeriahan yang erat kaitannya dengan perayaan di Indonesia. Bunyi letusannya yang unik sering terdengar selama bulan Ramadan hingga perayaan Hari Raya Idulfitri. Meskipun sekarang penggunaannya semakin terbatas, keberadaan petasan kertas tetap tidak dapat dipisahkan dari sejarah yang panjang serta tradisi yang pernah ada di masyarakat, termasuk di wilayah Mojokerto.
1. Berawal dari Tiongkok Kuno
Sejarah dari petasan kertas dimulai dengan ditemukannya bubuk mesiu di Tiongkok sekitar abad ke-9. Pada waktu itu, para ilmuwan secara tidak sengaja menemukan campuran seperti belerang, arang, dan kalium nitrat. Awalnya, mesiu dipakai untuk ritual keagamaan dan diyakini dapat mengusir roh-roh jahat.
Seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai mengisi bambu dengan bubuk mesiu atau membungkusnya dengan kertas kemudian menyalakannya untuk menciptakan bunyi ledakan. Penyederhanaan ini menjadi awal mula dari petasan tradisional, termasuk petasan kertas yang masih dikenal hingga saat ini.
Seiring berjalannya waktu, tradisi ini menyebar ke banyak negara, termasuk Indonesia, dan mengalami berbagai penyesuaian dengan kebudayaan setempat.
2. Petasan sebagai Tradisi di Indonesia
Di Indonesia, petasan kertas telah menjadi elemen penting dalam tradisi masyarakat, terutamanya ketika merayakan acara keagamaan. Bunyi petasan sering kali dianggap sebagai lambang keceriaan dan kemeriahan dalam perayaan.
Pada zaman dahulu, masyarakat banyak membuat petasan kertas secara mandiri menggunakan bahan-bahan sederhana. Anak-anak dan remaja menjadikannya sebagai sumber hiburan, terutamanya pada waktu malam di bulan Ramadan atau menjelang Hari Raya.
Namun, seiring perkembangan zaman, penggunaan petasan mulai diatur. Faktor keselamatan menjadi perhatian utama, mengingat risiko yang ada seperti luka bakar, kebakaran, serta gangguan terhadap ketertiban masyarakat.
3. Tradisi Petasan di Mojokerto
Di wilayah Mojokerto, petasan kertas pernah menjadi bagian dari tradisi yang cukup populer. Pada era sebelumnya, suara petasan kerap terdengar di berbagai sudut kampung, terutama pada:
– Malam hari setelah salat tarawih,
– Waktu menjelang sahur,
– Serta malam takbiran.
Bagi orang-orang, petasan bukan hanya sekadar sumber hiburan, melainkan juga cara untuk memperkuat rasa kebersamaan. Anak-anak berkumpul, bersenang-senang, dan merasakan keceriaan Ramadan yang lebih kuat. Namun, tradisi ini sekarang semakin berkurang. Pemerintah dan pihak keamanan dengan tegas mengatur penggunaan petasan karena dianggap berpotensi membahayakan. Di samping itu, meningkatnya pemahaman masyarakat mengenai risiko yang muncul juga membuat penggunaan petasan kertas semakin langka.
Sebagai pengganti, masyarakat saat ini lebih memilih bentuk hiburan yang lebih aman, seperti kembang api yang mendapatkan izin resmi atau kegiatan agama dan sosial yang lebih memberikan manfaat.
4. Antara Tradisi dan Keselamatan
Petasan kertas adalah bagian dari perjalanan budaya yang panjang, dari adat istiadat kuno di Tiongkok hingga menjadi tradisi di masyarakat Indonesia. Di Mojokerto, keberadaannya dulunya menjadi lambang kegembiraan saat menyambut bulan Ramadan dan perayaan Idulfitri.
Namun, dengan kemajuan zaman, perhatian terhadap keselamatan menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Maka dari itu, melestarikan tradisi masih penting, tetapi harus selaras dengan kesadaran akan keamanan dan kenyamanan bersama.
Dengan cara ini, nilai kebersamaan serta semangat merayakan dapat tetap dirasakan tanpa perlu menghadirkan risiko yang berbahaya.
Fransiska Berliana Vega












