Mojokerto, LenteraInspiratif.id — Di tengah bentang alam lereng Gunung Penanggungan, jejak masa lalu masih tersimpan di antara bebatuan. Salah satunya adalah Candi Bayi, situs yang berada di Dusun Balekambang, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.
Berada pada ketinggian sekitar 810 meter di atas permukaan laut, Candi Bayi menjadi salah satu situs arkeologi yang dapat ditemui oleh pendaki yang melintasi jalur Gunung Penanggungan melalui kawasan Jolotundo.
Keberadaan candi tersebut menjadi pengingat bahwa kawasan Gunung Penanggungan tidak hanya menawarkan panorama alam, tetapi juga menyimpan jejak peradaban Hindu-Buddha yang berkembang pada masa lampau.
Di balik keberadaan situs tersebut, terdapat warga lokal yang turut menjaga dan merawat kawasan peninggalan sejarah tersebut salah-satunya adalah Hendra. Sebagai orang yang sehari-hari berada di sekitar situs, Hendra menjadi salah satu pihak yang mengetahui kondisi Candi Bayi serta perubahan yang terjadi di kawasan tersebut.
Menurut Hendra, keberadaan batu-batu candi perlu mendapatkan perhatian dari setiap pengunjung. Batu yang berada di kawasan candi bukan sekadar bebatuan biasa, melainkan bagian dari peninggalan sejarah yang perlu dijaga.
“Untuk para pendaki harapan kami untuk ikut melestarikan alam dan menjaga peninggalan leluhur kita, karena banyak sekali batu dari Candi Bayi yang berpindah tempat tidak seperti semula,” ujar Hendra.
Kekhawatiran terhadap kondisi situs ini, Hendra menyampaikan pesan kepada para pengunjung agar tidak memindahkan atau membawa batu yang berada di kawasan Candi Bayi. Pesan tersebut muncul karena dari tahun ke tahun disebut terdapat batu-batu candi yang semakin berkurang dan susunannya menjadi tidak beraturan.
Bagi pengunjung, batu-batu tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi sebuah situs bersejarah, setiap bagian memiliki nilai yang penting. Ketika sebuah batu dipindahkan dari tempatnya, konteks sejarah dan susunan situs juga dapat terganggu.
Karena itu, Hendra beserta masyarakat lokal lainnya berharap pengunjung dapat menjaga keberadaan Candi Bayi selama melakukan perjalanan di kawasan Gunung Penanggungan.
Menjaga Candi Bayi bukan hanya berarti mempertahankan batu-batu yang masih tersisa. Lebih dari itu, menjaga situs tersebut berarti ikut merawat jejak perjalanan peradaban yang tersimpan di lereng Gunung Penanggungan.
Di antara perjalanan para pendaki dan suasana alam pegunungan, Candi Bayi menjadi pengingat bahwa sejarah tidak selalu hadir dalam bangunan yang utuh dan megah. Terkadang, sejarah justru tersisa dalam susunan batu yang membutuhkan kepedulian agar tetap dapat dikenali oleh generasi berikutnya.
Pesan sederhana dari masyarakat dan juru kunci pun menjadi penting. Datang untuk mengenal sejarah, bukan mengambil bagian dari sejarah.
Sebab ketika satu batu peninggalan sejarah dipindahkan, yang hilang bukan hanya sebuah benda, tetapi juga bagian dari cerita masa lalu yang mungkin tidak dapat dikembalikan.












