MOJOKERTO — Puluhan kilometer jalan yang terbentang dari Mojokerto menuju Surabaya akan kembali dipenuhi langkah kaki pada 28 November 2026 mendatang.
Ribuan peserta akan berjalan menyusuri jalur panjang tersebut dalam Gerak Jalan Perjuangan Mojokerto-Surabaya, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mojosuro.
Namun, Mojosuro bukan sekadar tentang siapa yang mampu berjalan paling jauh atau bertahan paling lama.
Di balik setiap langkah, ada sejarah tentang perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Ada nama-nama pejuang yang pernah berjuang di berbagai sektor pertahanan Jawa Timur. Ada pula ingatan kolektif yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu, setiap kali Mojosuro digelar, perjalanan puluhan kilometer tersebut seolah menjadi cara masyarakat untuk kembali menapaki jejak perjuangan masa lalu.
Bukan Rute Awal Mojosuro
Selama ini, nama Mojosuro identik dengan perjalanan dari Mojokerto menuju Surabaya. Namun, sejarah mencatat bahwa rute tersebut bukanlah rute awal gerak jalan perjuangan ini.
Menurut Zerline Tri Cahyani dalam jurnal berjudul “Tradisi Gerak Jalan Perjuangan (GJP) Mojosuro (Mojokerto-Surabaya) Tahun 2006-2019”, Gerak Jalan Perjuangan pertama kali digelar pada 1955 oleh Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Timur.
Pada periode awal, tepatnya 1955 hingga 1958, peserta tidak berangkat dari Mojokerto. Mereka memulai perjalanan dari Pandaan dan berakhir di Surabaya.
Rute tersebut dipilih untuk mengenang perjuangan pertahanan di sektor selatan Sungai Brantas. Dalam sejarah perjuangan itu terdapat sejumlah pasukan, di antaranya Batalyon Tjipto dan Abdullah.
Rute Berubah, Sejarah yang Dikenang Berbeda
Memasuki 1959, rute gerak jalan mengalami perubahan. Pandaan-Surabaya berganti menjadi Mojokerto-Surabaya.
Perubahan itu bukan sekadar persoalan jalur. Ada sejarah perjuangan lain yang hendak diingat melalui rute baru tersebut, yakni perjuangan para pejuang di sektor barat Sungai Brantas.
Sejumlah kelompok dan pasukan tercatat terlibat dalam perjuangan tersebut. Di antaranya Laskar Hizbullah, Tentara Pelajar, Polisi Istimewa, Batalyon Mansjur, Sholikin dan Munasir, hingga Djarot Subiantoro.
Nama Djarot Subiantoro bahkan kemudian diabadikan melalui Monumen Mayangkara yang berada di Wonokromo, Surabaya.
Sejak perubahan rute tersebut, perjalanan Mojokerto-Surabaya semakin melekat dalam ingatan masyarakat sebagai bagian dari tradisi memperingati perjuangan para pahlawan.
Pernah Terhenti karena Situasi Politik
Perjalanan Mojosuro juga tidak selalu berlangsung tanpa hambatan.
Pada 1965 hingga 1967, kegiatan ini sempat dihentikan. Situasi politik yang tidak kondusif setelah peristiwa G30S menjadi salah satu faktor yang membuat gerak jalan perjuangan tersebut tidak digelar.
Setelah melewati berbagai perubahan dan dinamika zaman, tradisi ini kembali berjalan dan rute Mojokerto-Surabaya kemudian menjadi identitas yang terus dikenal hingga sekarang.
Ketika Mojosuro Menginspirasi Gombloh
Mojosuro ternyata tidak hanya hidup di jalanan. Tradisi tersebut juga merambah dunia musik.
Musisi asal Jawa Timur, Gombloh, bersama kelompok musik Lemon Tree Anno, menciptakan lagu berjudul “Gaung Mojokerto-Surabaya” pada 1969.
Lagu tersebut menjadi salah satu bukti bahwa tradisi gerak jalan ini telah memiliki tempat dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Jawa Timur.
Popularitas Mojosuro kemudian semakin besar pada dekade 1980-an.
Arsip koran Berita Yudha tahun 1984 mencatat sebanyak 40.716 peserta dari berbagai kalangan dan daerah ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Dengan panjang rute sekitar 55 kilometer, perjalanan itu menjadi tontonan besar bagi masyarakat. Warga berjajar di sepanjang jalan untuk menyaksikan sekaligus memberikan semangat kepada para peserta.
Bukan Sekadar Berjalan
Kini, Mojosuro telah berkembang jauh melampaui sebuah kegiatan olahraga.
Ribuan orang yang berjalan dari Mojokerto menuju Surabaya tidak hanya membawa perlengkapan perjalanan, tetapi juga membawa cerita dan ingatan tentang masa lalu.
Di sepanjang rute, kegiatan tersebut ikut menghidupkan aktivitas masyarakat. Pedagang mendapatkan kesempatan ekonomi, sementara berbagai daerah yang dilewati kembali menjadi ruang perjumpaan masyarakat.
Mojosuro juga menjadi bagian dari aktivitas pariwisata dan budaya di dua wilayah yang terhubung melalui satu perjalanan panjang tersebut.
Lebih dari itu, terdapat nilai-nilai yang terus melekat dalam tradisi ini: perjuangan, kedisiplinan, kebersamaan, ketahanan fisik, serta semangat hidup sehat.
Menapaki Sejarah dengan Langkah
Mojosuro pada akhirnya bukan hanya perjalanan dari satu kota menuju kota lain.
Ia adalah perjalanan menembus waktu.
Setiap kilometer yang dilewati menjadi pengingat bahwa kemerdekaan yang dinikmati hari ini tidak hadir begitu saja. Ada perjuangan, keringat, keberanian, bahkan pengorbanan yang pernah diberikan oleh mereka yang hidup pada masa sebelumnya.
Karena itu, ketika ribuan orang kembali berjalan dari Mojokerto menuju Surabaya pada 28 November 2026, yang bergerak bukan hanya kaki.
Ada sejarah yang kembali diceritakan.
Ada nama-nama pejuang yang kembali dikenang.
Dan ada pesan yang terus diwariskan: bahwa perjuangan tidak selalu harus dikenang melalui monumen. Kadang, ia cukup dihidupkan kembali melalui langkah-langkah yang terus berjalan.
Pewarta: Samsuddin













