Surabaya – Perkembangan harga bahan pokok di Jawa Timur pada Senin (4/5/2026) menunjukkan lonjakan signifikan pada komoditas cabai, khususnya cabai rawit merah. Kenaikan ini menjadi yang paling mencolok di tengah fluktuasi harga sejumlah bahan pangan lainnya.
Harga beras terpantau stabil. Beras premium bertahan di Rp14.879 per kilogram, sementara beras medium juga tetap di Rp12.941 per kilogram.
Pada komoditas gula, gula kristal putih justru turun Rp24 menjadi Rp17.236 per kilogram. Sementara itu, harga minyak goreng cenderung bervariasi. Minyak goreng curah naik Rp43 menjadi Rp20.490 per kilogram, sedangkan minyak goreng kemasan premium, sederhana, dan Minyakita masing-masing mengalami penurunan tipis.
Di sektor daging, harga daging sapi paha belakang naik Rp66 menjadi Rp124.334 per kilogram. Kenaikan lebih terasa terjadi pada daging ayam ras yang naik Rp352 menjadi Rp35.464 per kilogram, serta ayam kampung naik Rp373 menjadi Rp70.430 per ekor.
Untuk komoditas telur, telur ayam ras turun Rp94 menjadi Rp26.257 per kilogram, sedangkan telur ayam kampung relatif stabil.
Lonjakan tertinggi terjadi pada kelompok cabai. Cabai rawit merah meroket Rp7.734 menjadi Rp55.642 per kilogram atau naik hingga 16,14 persen. Selain itu, cabai merah keriting naik Rp856 menjadi Rp37.394 per kilogram, dan cabai merah besar naik Rp727 menjadi Rp40.735 per kilogram.
Kenaikan juga terjadi pada bawang merah yang naik Rp553 menjadi Rp36.785 per kilogram, sementara bawang putih turun tipis menjadi Rp29.789 per kilogram.
Pada kelompok sayuran, harga bergerak variatif. Tomat merah naik Rp389 menjadi Rp12.023 per kilogram, dan wortel naik Rp65. Sebaliknya, buncis turun cukup dalam Rp529 menjadi Rp12.492 per kilogram, serta kubis turun Rp59.
Sementara itu, harga komoditas lain seperti ikan, bahan bangunan, dan gas elpiji relatif stabil dengan perubahan kecil.
Secara keseluruhan, kenaikan tajam pada cabai rawit menjadi perhatian utama karena berpotensi memicu tekanan inflasi, terutama pada sektor konsumsi rumah tangga. Kondisi ini diperkirakan dipengaruhi oleh pasokan yang terbatas di tengah permintaan yang tetap tinggi.













