SURABAYA, Lenterainspiratif.id – Ratusan buruh yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Jawa Timur, Jalan Pahlawan, Surabaya, Kamis (16/4/2026).
Dalam aksi pra-May Day tersebut, massa buruh menyuarakan tuntutan utama berupa penghapusan sistem outsourcing yang dinilai merugikan pekerja dan tidak memberikan kepastian kerja.
Berdasarkan pantauan di lokasi, massa mulai berkumpul sekitar pukul 12.13 WIB di kawasan Frontage Ahmad Yani Surabaya sebelum bergerak menuju Kantor Gubernur Jatim sekitar pukul 12.16 WIB. Rombongan yang didominasi kendaraan roda dua mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian.
Sepanjang perjalanan, arus lalu lintas sempat mengalami kepadatan di sejumlah titik, mulai dari kawasan Joyoboyo hingga pusat kota Surabaya.
Setibanya di sekitar Kampung Maspati, sekitar satu kilometer dari lokasi aksi, sebagian massa memilih turun dari kendaraan dan berjalan kaki sambil membawa poster berisi tuntutan.
Teriakan “Hapus Outsourcing” terus menggema selama aksi berlangsung. Buruh juga mendesak DPR dan pemerintah segera membahas serta mengesahkan Undang-Undang Ketenagakerjaan baru sesuai putusan Mahkamah Konstitusi.
Massa tiba di depan Kantor Gubernur Jatim sekitar pukul 13.30 WIB. Aksi kemudian dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars FSPMI.
Dalam orasinya, perwakilan DPW FSPMI Jatim, Udin, menyoroti sejumlah janji yang disebut pernah disampaikan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, pada peringatan May Day tahun lalu.
“Ada beberapa poin yang sampai saat ini belum dilaksanakan. Mulai dari pembangunan rumah untuk buruh, penambahan kuota anak buruh di SMA/SMK negeri, hingga evaluasi pajak kendaraan dan PBB untuk buruh,” ujarnya.
Selain itu, massa juga menyoroti lemahnya perlindungan hukum bagi pekerja, termasuk perusahaan yang belum mendaftarkan karyawannya ke BPJS.
Orator lainnya, Budiyanto, menegaskan aksi tersebut bukan bentuk perlawanan politik, melainkan murni perjuangan hak-hak buruh.
“Kami bukan oposisi. Kami hanya meminta janji konstitusi untuk pekerja benar-benar diwujudkan,” tegasnya.
Aksi berlangsung damai dan tertib. Massa buruh masih bertahan di depan kantor gubernur sambil menunggu hasil perundingan perwakilan mereka dengan pihak terkait.
Aksi ini disebut sebagai pemanasan menjelang Hari Buruh Internasional (May Day) 1 Mei 2026, di mana jumlah massa diperkirakan akan lebih besar.













