Lenterainspiratif.id | Kota Mojokerto – Pemerintah Kota Mojokerto memastikan program cabenisasi tidak berhenti sebagai program sesaat. Penanaman cabai akan terus dilanjutkan hingga 2029 sebagai bagian dari strategi ketahanan pangan sekaligus langkah konkret menekan inflasi daerah yang kerap dipicu lonjakan harga cabai.
Penegasan itu disampaikan Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari saat membuka Sosialisasi Teknis Budidaya Cabai dan Peluang Usaha di Perkotaan di PLUT Maja Citra Kinarya, Kecamatan Prajuritkulon, Jumat (7/8/2026). Kegiatan tersebut diikuti perwakilan dari 18 kelurahan, camat, dan lurah se-Kota Mojokerto.
Menurut Ning Ita, sapaan akrab Wali Kota, cabenisasi telah masuk dalam arah pembangunan jangka menengah daerah karena selaras dengan program nasional ketahanan pangan.
“Program cabenisasi atau penanaman cabai ini bukan hanya sekadar program tahun 2026. Karena ini linier dengan RPJMN dan mendukung program strategis nasional terkait ketahanan pangan. Paling tidak sampai tahun 2029 nanti program ini harus tetap berjalan,” ujarnya.
Ia menilai keterbatasan lahan di kawasan perkotaan bukan alasan untuk berhenti menanam. Warga tetap bisa memanfaatkan pekarangan sempit, teras rumah, maupun pot dari barang bekas sebagai media tanam cabai.
Namun, Ning Ita menekankan keberhasilan program tidak diukur dari banyaknya bibit yang dibagikan, melainkan dari dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat.
“Yang paling penting outcome-nya harus bisa diukur. Sejauh mana program cabenisasi ini mampu mengurangi pengeluaran rumah tangga dan membantu mengendalikan inflasi cabai. Keberhasilannya harus benar-benar terlihat,” tegasnya.
Karena itu, ia meminta Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Mojokerto melakukan monitoring dan evaluasi secara rutin, termasuk memetakan kendala yang dihadapi warga agar program dapat terus diperbaiki.
Hingga pertengahan 2026, DKPP telah menyalurkan lebih dari 102 ribu bibit cabai kepada masyarakat melalui berbagai skema. Dari hasil evaluasi lapangan, sejumlah persoalan yang masih banyak ditemukan antara lain serangan hama, daun keriting, dan gangguan tikus.
Melalui sosialisasi ini, peserta juga mendapatkan pelatihan teknis budidaya dari praktisi hortikultura agar tingkat keberhasilan tanam meningkat dan hasil panen lebih optimal.
Pemkot Mojokerto tidak hanya mendorong cabai sebagai kebutuhan rumah tangga, tetapi juga sebagai peluang usaha baru di lingkungan perkotaan. Dengan pendampingan berkelanjutan, program cabenisasi diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan keluarga, menjaga stabilitas harga, dan membuka tambahan sumber pendapatan bagi masyarakat. (Roe/adv kom)

