Mojokerto, LenteraInspiratif.id – Perkembangan harga sembako Mojokerto hari ini, Minggu (15/2/2026), menunjukkan tren kenaikan pada sejumlah komoditas penting. Berdasarkan pantauan harga di tingkat konsumen, cabai rawit kembali menjadi penyumbang kenaikan tertinggi, baik secara harian maupun mingguan. Kondisi ini mulai dirasakan masyarakat, khususnya pedagang makanan dan rumah tangga.
Harga cabai rawit tercatat mencapai Rp76.316 per kilogram, naik Rp158 atau 0,21 persen dibandingkan hari sebelumnya. Jika dilihat secara mingguan, lonjakan harga cabai rawit terbilang signifikan, yakni naik Rp8.348 atau 12,55 persen dari posisi sebelumnya Rp66.540 per kilogram. Kenaikan tajam cabai rawit ini dipicu oleh berkurangnya pasokan dari petani serta distribusi yang belum sepenuhnya stabil.
Selain cabai rawit, cabai merah biasa juga mengalami kenaikan. Harga cabai merah hari ini berada di angka Rp31.613 per kilogram, naik Rp410 atau 1,31 persen secara harian. Dalam sepekan terakhir, kenaikannya bahkan mencapai 4,86 persen , menandakan tekanan harga cabai masih cukup kuat di pasar Mojokerto.
Sementara itu, harga beras relatif stabil. Beras IR 64 medium masih bertahan di harga Rp13.474 per kilogram, sedangkan beras premium seperti Bramu Super tercatat Rp15.665 per kilogram. Kenaikan mingguan beras masih tergolong wajar dan belum membebani daya beli masyarakat.
Pada komoditas protein hewani, daging ayam broiler dijual Rp38.526 per kilogram atau naik tipis 0,01 persen secara harian, namun secara mingguan melonjak 4,51 persen. Telur ayam ras juga mengalami kenaikan menjadi Rp28.868 per kilogram, naik 0,18 persen dari hari sebelumnya.
Harga LPG 3 kg turut mengalami kenaikan mingguan yang cukup terasa. Saat ini, harga LPG subsidi tersebut berada di kisaran Rp19.708, atau naik 4,73 persen dibandingkan minggu lalu. Kondisi ini mulai dikeluhkan warga karena berdampak langsung pada kebutuhan rumah tangga dan pelaku UMKM.
Secara umum, harga sembako Mojokerto hari ini masih fluktuatif dengan tekanan utama pada komoditas cabai rawit dan gas LPG. Pemerintah daerah diharapkan terus memantau distribusi dan pasokan agar lonjakan harga, khususnya cabai rawit, tidak berlarut dan memicu inflasi pangan di daerah.









