MOJOKERTO, LenteraInspiratif.id — Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Kota Mojokerto menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Literasi Informasi untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memilah informasi, menangkal hoaks, dan menghadapi perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Kegiatan bertema “Smart Information, Wise Action: Generasi Kritis dan Bijak di Era AI” tersebut berlangsung di Aula Kelurahan Jagalan, Rabu (14/10/2026). Bimtek dilaksanakan selama enam hari dengan total 275 peserta yang terdiri atas mahasiswa, guru SD hingga SMA, serta petugas dan pengelola perpustakaan sekolah.
Dua pemateri dihadirkan dalam kegiatan ini, yakni Imaduddin Bahtiar Efendi, S.T., M.T. dan Wilda Prihatiningtyas, S.H., M.H.
Kepala Disperpusip Kota Mojokerto, Abd. Rachman Tuwo, mengatakan perpustakaan memiliki peran penting dalam membangun masyarakat pembelajar. Fungsi perpustakaan kini tidak terbatas pada penyimpanan dan peminjaman buku, tetapi juga berkembang menjadi pusat informasi, sumber belajar, dan ruang pengembangan literasi masyarakat.
Menurutnya, perubahan lingkungan informasi yang berlangsung cepat menuntut perpustakaan untuk terus beradaptasi. Masyarakat kini dapat mengakses informasi dari berbagai sumber, baik cetak maupun digital, dalam jumlah besar dan hampir setiap saat.
Namun, kemudahan tersebut juga membawa tantangan karena tidak semua informasi yang beredar memiliki sumber yang jelas, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Literasi informasi bukan sekadar kemampuan menggunakan internet atau mencari informasi melalui mesin pencari. Literasi informasi merupakan kemampuan seseorang untuk mengidentifikasi kebutuhan informasi, menemukan sumber informasi yang sesuai, mengevaluasi kualitas dan kredibilitas informasi, serta menggunakannya secara efektif, etis, dan bertanggung jawab,” kata Tuwo.
Ia menilai kemampuan tersebut penting dimiliki berbagai kalangan, khususnya peserta didik, mahasiswa, guru, dan pengelola perpustakaan.
Guru, lanjutnya, berperan membimbing peserta didik agar mampu memanfaatkan informasi secara tepat. Sementara itu, pengelola perpustakaan memiliki tanggung jawab menyediakan akses terhadap sumber informasi berkualitas dan memberikan layanan informasi kepada pemustaka.
Adapun mahasiswa dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis serta menggunakan informasi secara bertanggung jawab dalam lingkungan akademik.
Melalui kegiatan ini, Disperpusip Kota Mojokerto berharap peserta tidak hanya memperoleh tambahan pengetahuan, tetapi juga mampu menerapkan keterampilan literasi informasi di lingkungan masing-masing.
Tuwo berharap peserta semakin memahami cara mengidentifikasi kebutuhan informasi, melakukan penelusuran, menilai kredibilitas sumber, membedakan informasi yang dapat dipercaya dari informasi yang meragukan, serta menyebarluaskan informasi secara etis dan bertanggung jawab.
Peningkatan kemampuan tersebut diharapkan turut memperkuat kualitas layanan perpustakaan sekolah sekaligus membangun budaya literasi digital yang kritis dan bijak di tengah perkembangan teknologi informasi dan AI.













