DaerahJawa Timur

Larangan Mudik Lebaran Tahun 2021 Pengusaha Jasa Transportasi Bersuara

×

Larangan Mudik Lebaran Tahun 2021 Pengusaha Jasa Transportasi Bersuara

Sebarkan artikel ini
Larangan Mudik Lebaran Tahun 2021 Pengusaha Jasa Transportasi Bersuara
ilustrasi

Larangan Mudik Lebaran Tahun 2021 Pengusaha Jasa Transportasi Bersuara
ilustrasi

Lenterainspiratif.id | Pacitan – Larangan mudik menjelang lebaran tahun 2021 mulai 6-17 Mei mendatang. pengusaha trasnportasipun akhirnya bersuara. larangan mudik, dapat diartikan juga  transportasi umum juga tidak di izinkan untuk beroperasi di waktu yang telah ditentukan.

“Hati kecil memang kecewa. Karena musim (Lebaran) panen bagi pengusaha angkutan. Tapi mau apa lagi?” tutur pemilik bisnis travel, Era Budianto (43), Kamis (29/4/2021).

Meskipun begitu Era tetap menghargai kebijakan Pemerintah demi kebaikan bersama, namun kebijakan itu harus dijalankan dengan konsisten. Pasalnya ada dugaan jasa penyelundupan pemudik menggunakan mobil berplat hitam.

Menggunakan mobil pribadi ini lanjut Era, adalah untuk mengelabui petugas. Para penumpang beralasan sebagai anggota keluarga yang hendak menjenguk saudaranya yang sedang sakit. Untuk itu petugas harus lebih jeli.

“Jangan hanya travel legal yang disetop. Travel gelap juga harus dihentikan. Mereka itu kan seringnya beroperasi dengan armada pelat hitam,” imbuhnya.

Keluhan senada diungkapkan Agus Sudarmaji (65). Adanya laranga n mudik tersebut turut memperberat beban yang harus ditanggung pengusaha. Namun sebagai warga negara yang baik. Ia harus patuh terhadap aturan Pemerintah.

Digambarkan Maji, dalam setahun terakhir dirinya terpaksa memangkas operasional angkutan. Dari total 80 unit bus miliknya, saat ini hanya 12 bus yang beroperasi. 10 bus melayani trayek Pacitan-Solo. Sedangkan 2 unit lainnya jurusan Pacitan-Surabaya.

“Untuk jurusan Jakarta saya hentikan dulu. Bagaimana ndak rugi pas berangkat saya sudah keluarkan Rp 2 juta. Tapi penumpangnya ndak lebih 5 orang,” paparnya.

Keadaan tersebut membuatnya sulit mendapatkan keuntungan. Sudah bisa bertahan saja rasanya sudah kelewat beruntung. Bahkan beberapa karyawan nya lebih memilih banting setir dan mencari pekerjaan lain. Termasuk juga pegawai bidang administrasi di perusahaan bus tersebut.

“Berat. Memang berat ini. Tapi bagaimana lagi? Di sisi lain angsuran bank harus tetap dibayar, pajak juga begitu,” tuturnya.

“Ya kalau memang total dilarang beroperasi mestinya SPBU juga ditutup. Jadi ndak ada kendaraan yang melintas,” pungkas Maji. ( jun )