Lenterainspiratif.id | Surabaya – Harga rata-rata bahan pokok di tingkat konsumen di Provinsi Jawa Timur pada Sabtu (25/7/2026) pukul 11.04 WIB terpantau relatif stabil. Mayoritas komoditas tidak mengalami perubahan harga, sementara sejumlah bahan pangan mengalami kenaikan maupun penurunan tipis.
Berdasarkan data pemantauan harga, kenaikan tertinggi terjadi pada komoditas buncis yang naik sebesar 0,85 persen atau Rp107 menjadi Rp12.697 per kilogram. Selanjutnya, cabai merah keriting naik 0,32 persen menjadi Rp31.111 per kilogram, disusul daging ayam ras yang meningkat 0,27 persen menjadi Rp33.789 per kilogram.
Selain itu, cabai merah besar tercatat naik 0,22 persen menjadi Rp32.204 per kilogram, telur ayam ras naik 0,15 persen menjadi Rp25.083 per kilogram, sedangkan cabai rawit merah naik tipis 0,07 persen menjadi Rp38.331 per kilogram. Harga daging sapi paha belakang juga mengalami kenaikan tipis 0,03 persen menjadi Rp127.279 per kilogram.
Di sisi lain, penurunan harga terdalam terjadi pada tomat merah yang turun 1,19 persen atau Rp101 menjadi Rp8.385 per kilogram. Bawang merah juga mengalami penurunan sebesar 0,49 persen menjadi Rp31.790 per kilogram, disusul wortel yang turun 0,34 persen menjadi Rp15.030 per kilogram dan kol/kubis yang turun 0,31 persen menjadi Rp8.559 per kilogram.
Sementara itu, bawang putih turun tipis 0,11 persen menjadi Rp31.827 per kilogram. Harga gula kristal putih, kedelai impor, kedelai lokal, dan beras premium juga mengalami koreksi tipis dengan penurunan di bawah 0,1 persen.
Adapun sejumlah komoditas strategis masih bertahan stabil. Harga beras medium tetap di Rp12.981 per kilogram. Seluruh jenis minyak goreng, termasuk Minyakita, tidak mengalami perubahan harga. Demikian pula dengan LPG 3 kilogram, tepung terigu, garam, jagung pipilan kering, kentang, serta berbagai produk susu yang masih bertahan pada harga sebelumnya.
Secara umum, kondisi harga bahan pokok di Jawa Timur masih terkendali. Fluktuasi yang terjadi pada sejumlah komoditas masih berada dalam kisaran tipis sehingga belum menunjukkan adanya gejolak harga yang signifikan di tingkat konsumen.

