Lentera Inspiratif, Mojokerto- Ramadhan merupakan bulan suci yang memiliki keistimewaan besar dalam ajaran Islam. Pada bulan ini, Allah SWT membuka pintu rahmat-Nya seluas-luasnya serta melipatgandakan pahala bagi umat Islam yang menjalankan ibadah puasa sesuai syariat dan adabnya.
Memasuki hari ke-7 puasa Ramadhan 1447 Hijriah, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan ibadah dan berlomba-lomba meraih keberkahan bulan suci. Pemahaman mengenai fadhilah atau keutamaan puasa Ramadhan, termasuk pada hari ke-7, diharapkan dapat memotivasi umat Muslim untuk menjaga semangat beribadah hingga akhir Ramadhan.
Selain memperbanyak amal ibadah, umat Islam juga dianjurkan untuk mencari keberkahan melalui pemahaman fadhilah puasa hari ke-7 Ramadhan 1447 H. Keutamaan tersebut dinilai dapat menjadi sarana penguatan spiritual sekaligus mendorong umat untuk mencapai derajat ketakwaan yang menjadi tujuan utama ibadah puasa.
Rasulullah SAW menegaskan besarnya nilai pengampunan dosa di bulan Ramadhan sebagaimana diriwayatkan dalam hadis sahih:
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala (dari Allah), maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Dengan mengetahui fadhilah puasa hari ke-7 Ramadhan 1447 H, umat Islam diharapkan dapat menjalani sisa hari Ramadhan dengan penuh keikhlasan serta memanfaatkan waktu luang untuk memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’an.
Berdasarkan keterangan dalam Kitab *Fadhâil Al-Asyhur Ats-Tsalâtsah* karya Syeikh Muhammad bin Ali bin Husein bin Musa bin Babawayh Al-Qumi.
Keutamaan puasa hari ke-7 Ramadhan adalah memperoleh pahala di surga Na’im yang setara dengan pahala seribu orang syuhada dan empat puluh ribu orang yang benar.
Puasa Ramadhan hari ke-7 juga dipandang sebagai momentum untuk memperkuat pengendalian diri dan meningkatkan kualitas ibadah. Umat Islam yang menjalankan puasa dengan penuh keikhlasan dinilai memperoleh pahala besar berupa perlindungan dari godaan setan serta penguatan iman dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Ibadah puasa tidak hanya dimaknai sebagai menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, tetapi juga sebagai latihan menjaga lisan, pandangan, dan perbuatan. Konsistensi dalam menjalankan ibadah pada hari ke-7 Ramadhan dinilai sebagai wujud kesungguhan seorang hamba dalam menaati perintah Allah SWT.
Selain itu, puasa hari ke-7 juga menjadi sarana pembinaan kesabaran dan keistiqamahan. Umat Muslim yang mampu menjaga adab puasa secara utuh dinilai memperoleh ganjaran berupa ketenangan batin serta peningkatan kualitas keimanan.
Dengan demikian, puasa Ramadhan hari ke-7 mengandung nilai pahala yang tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga berdampak pada pembentukan akhlak serta penguatan spiritual umat Islam.













