Warga Kelurahan Prajurit kota Mojokerto, Kabupaten Mojokerto, kembali menggelar tradisi ruwat desa yang rutin dilaksanakan setiap tahun pada bulan Ruwah dalam penanggalan Jawa, Kamis(12/02/2026). Tradisi tersebut menjadi bentuk ungkapan rasa syukur masyarakat atas hasil bumi sekaligus doa bersama agar desa terhindar dari marabahaya.
Ruwat desa diawali dengan kirab tumpeng dan hasil pertanian, produk UMKM yang diarak start dari GG 9 prajurit kulon sampai tiba lapngan untuk finish nya. Prosesi dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama dan sesepuh desa. Sejumlah warga tampak mengenakan busana adat Jawa, menambah kekhidmatan suasana.
Muhammad Nur Hadi (48), mengatakan ruwat desa merupakan warisan budaya leluhur yang terus dijaga oleh masyarakat. Menurutnya, tradisi tersebut tidak hanya bermakna spiritual, tetapi juga memperkuat kebersamaan warga.
“Ruwat desa ini sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki yang diberikan sekaligus doa agar desa kami selalu diberi keselamatan dan ketenteraman,” ujar Kelurahan Desa (12/02)
Selain doa bersama, rangkaian kegiatan juga diisi dengan Kirab budaya, prajurit kulon bersholawat, Campur Sari dan di lanjutkan dengan wayang kulit. ujar panitia kegiatan atasnia (27)
kesenian tradisional seperti wayang kulit dan campursari yang digelar pada malam hari. Kegiatan tersebut menarik antusiasme warga dari berbagai dusun untuk turut hadir dan menyaksikan pertunjukan.
Muhammad Nur Hadi, mengaku senang tradisi ruwat desa masih terus dilaksanakan. Ia menilai kegiatan tersebut menjadi momentum berkumpulnya masyarakat sekaligus mengenalkan budaya lokal kepada generasi muda.
“Kalau tidak dilestarikan, anak-anak nanti bisa lupa dengan tradisi desanya sendiri,” ujarnya.
Pemerintah desa berharap tradisi ruwat desa dapat terus dipertahankan untuk setiap tahun nya, dan sebagai bagian dari identitas budaya lokal serta menjadi potensi pengembangan wisata budaya di wilayah setempat. (Nva)












