
TERNATE- Selain beberapa daerah lain di Maluku Utara yang ikut menggelar aksi demonstrasi, terkait turunnya harga kopra, Kota Ternate sebagai wilayah kota madya juga tidak luput dilakukan aksi sama.
Gerakan itu dilakukan oleh sejumlah aktivis yang terhimpun dari PMII, HMI, IMM, LMDN,GMKI, KAMMI, SAMURAI, Sekolah Kritis, API KARTINI, JMMU, HIPPMAMORO, PUSMAT,FORMAL, KPMG dan BEM se-Universitas Kota Ternate.
“Yang kita ketahui bahwa kopra merupakan salah satu kebutuhan yang paling pokok bagi masyarakat Maluku Utara dan Indonesia secara umum. Olehnya itu, kopra masih menjadi salah satu komoditas pertanian unggulan masyarakat Maluku Utara,” sebagaimana yang di katakan oleh mantan ketua cabang PMII Kota Ternate, Kubais Kuto, kepada media ini, Senin (19/11/2018).
Menurut dia, bahwa berdasarkan data balai pusat statistik (BPS) Maluku Utara, luas pertanaman kelapa di Maluku Utara pada tahun 2015 mencapai 147.733 hektar dengan jumlah produksi sebesar 231.619 ton.
“Olehnya itu, angka ini jauh lebih besar dibandingkan tanaman perkebunan lainnya seperti pala, cengkeh, dan kaokao. Serta Indonesia tercatat sebagai Negara pengekspor kopra terbesar kedua setelah Philipina. Dengan demikian, dapat kita ketahui bahwa sebagian besar hajat hidup masyarakat Maluku Utara sangat bergantung kepada hasil tani KOPRA,yang seharusnya mampu di perhatikan oleh Pemerintah daerah baik Provinsi, Kabupaten maupun Pusat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” tutur dia.
Dalam tiga bulan terakhir, harga kopra turun drastis, dan sangat di keluhkan oleh masyarakat Maluku Utara, tanpa terkecuali dibeberapa kabupaten kota di Maluku Utara masyarakatnya hadir dan mengeluhkan kepada Pemerintah namun tidak disikapi secara serius oleh pemerintah Maluku Utara, sehingga tuntutan ini terus bergulir di kalangan petani dan aktivis.(atir/rth)






