Mojokerto, LenteraInspiratif.id – Puluhan warga dari Kelurahan Miji dan Kelurahan Purwotengah, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto menghadiri kegiatan serap aspirasi masyarakat (reses) yang digelar Ketua DPRD Kota Mojokerto, Ery Purwanti, Minggu (15/3/2026).
Kegiatan tersebut merupakan reses pertama masa persidangan I di DPRD Kota Mojokerto. Dalam pertemuan itu, berbagai usulan dan aspirasi masyarakat disampaikan secara langsung kepada dewan untuk menjadi bahan perencanaan pembangunan daerah ke depan.
Ery Purwanti menjelaskan, seluruh aspirasi warga yang disampaikan dalam forum reses akan dihimpun untuk dimasukkan dalam pokok-pokok pikiran (Pokir) DPRD. Usulan tersebut direncanakan masuk dalam perencanaan pembangunan tahun 2027 dan diharapkan dapat direalisasikan pada tahun 2028.
“Pada prinsipnya semua aspirasi yang disampaikan masyarakat ini menjadi prioritas bagi kami di DPRD Kota Mojokerto. Karena ini benar-benar kebutuhan warga di tingkat bawah dan merupakan suara masyarakat yang wajib kita perjuangkan,” ujarnya.
Dalam dialog bersama warga, sejumlah kebutuhan lingkungan disampaikan, mulai dari fasilitas sosial hingga pembangunan infrastruktur.
Salah satu aspirasi yang mencuat adalah kebutuhan sarana rukun kematian di lingkungan warga. Menurut Ery, fasilitas tersebut sangat penting karena berkaitan langsung dengan pelayanan sosial masyarakat ketika ada warga yang meninggal dunia.
“Permintaan terkait rukun kematian ini sangat penting, karena menyangkut kepentingan masyarakat banyak. Jika peralatannya tidak tersedia, tentu akan menyulitkan warga saat harus mengantarkan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir,” jelasnya.
Selain itu, warga juga menyoroti kondisi infrastruktur di sekitar aliran Sungai Sadar, khususnya plengsengan atau penahan tanah yang dinilai rawan longsor.
Menanggapi hal tersebut, Ery memastikan pihaknya akan segera berkoordinasi dengan dinas terkait agar persoalan tersebut dapat ditindaklanjuti.
“Nanti kami akan meminta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang untuk berkomunikasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai agar pembangunan plengsengan sungai ini bisa segera direalisasikan. Jika sampai terjadi longsor tentu sangat berbahaya bagi warga,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya upaya antisipasi terhadap potensi banjir, mengingat Kota Mojokerto pernah mengalami peristiwa banjir lumpur pada tahun 2004.
“Kita tentu tidak ingin kejadian banjir seperti yang pernah terjadi dulu terulang kembali. Karena itu, berbagai upaya pencegahan harus mulai dipersiapkan sejak sekarang,” pungkasnya.
Melalui kegiatan reses tersebut, diharapkan berbagai aspirasi masyarakat dapat terserap secara maksimal sehingga pembangunan di Kota Mojokerto dapat berjalan lebih merata dan sesuai kebutuhan warga. (Roe/adv)













