Lentera Inspiratif, Mojokerto – Perayaan Tahun Baru Imlek di Klenteng Hok Siang Kiong berlangsung khidmat dan sarat makna. Salah satu tradisi yang kembali menjadi perhatian umat dan pengunjung adalah ritual menggantungkan doa di Pohon Bodhi yang berada di area klenteng.
Pohon Bodhi tersebut setiap tahun dikenal sebagai “Pohon Harapan”. Di setiap cabangnya tergantung pita dan papan kayu kecil berisi doa serta harapan umat. Berbeda dengan pohon pada umumnya, Pohon Bodhi ini tidak berbuah. Sebagai gantinya, ranting-rantingnya dipenuhi lembaran kertas merah yang ditulisi harapan akan kelancaran rezeki, kesehatan, kebahagiaan keluarga, hingga kesuksesan usaha di tahun yang baru.
Prosesi penulisan doa dilakukan usai ibadah. Umat menuliskan harapan mereka pada secarik kertas merah, lalu menggantungkannya dengan penuh khidmat. Warna merah yang mendominasi hiasan pohon memiliki makna simbolis dalam tradisi Imlek, yakni melambangkan keberuntungan, kebahagiaan, dan semangat baru.
Pada malam pergantian tahun hingga puncak perayaan, Pohon Bodhi tampak semarak oleh ratusan gantungan doa. Suasana klenteng pun terasa semakin hangat, dipenuhi nuansa kebersamaan dan optimisme menyongsong tahun yang baru.
Tradisi ini telah dijalankan secara turun-temurun dan menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Imlek di klenteng tersebut. Bagi umat, ritual ini bukan sekadar simbol, melainkan wujud penyampaian doa kepada Tuhan sekaligus refleksi diri untuk memulai lembaran baru.
Selain menjaga nilai spiritual dan budaya, kegiatan ini juga mempererat tali persaudaraan, tidak hanya antarumat, tetapi juga dengan masyarakat sekitar. Melalui tradisi Pohon Bodhi sebagai simbol harapan, Klenteng Hok Siang Kiong terus melestarikan kearifan lokal sekaligus menumbuhkan semangat kebersamaan di Kota Mojokerto.
Pohon Bodhi Jadi Simbol Doa Umat Setiap Tahun Baru Imlek di Klenteng Tri Dharma Hok Sian Kiong Kota Mojokerto
Mojokerto – Perayaan Tahun Baru Imlek di Klenteng Hok Siang Kiong berlangsung khidmat dan sarat makna. Salah satu tradisi yang kembali menjadi perhatian umat dan pengunjung adalah ritual menggantungkan doa di Pohon Bodhi yang berada di area klenteng.
Pohon Bodhi tersebut setiap tahun dikenal sebagai “Pohon Harapan”. Di setiap cabangnya tergantung pita dan papan kayu kecil berisi doa serta harapan umat. Berbeda dengan pohon pada umumnya, Pohon Bodhi ini tidak berbuah. Sebagai gantinya, ranting-rantingnya dipenuhi lembaran kertas merah yang ditulisi harapan akan kelancaran rezeki, kesehatan, kebahagiaan keluarga, hingga kesuksesan usaha di tahun yang baru.
Prosesi penulisan doa dilakukan usai ibadah. Umat menuliskan harapan mereka pada secarik kertas merah, lalu menggantungkannya dengan penuh khidmat. Warna merah yang mendominasi hiasan pohon memiliki makna simbolis dalam tradisi Imlek, yakni melambangkan keberuntungan, kebahagiaan, dan semangat baru.
Pada malam pergantian tahun hingga puncak perayaan, Pohon Bodhi tampak semarak oleh ratusan gantungan doa. Suasana klenteng pun terasa semakin hangat, dipenuhi nuansa kebersamaan dan optimisme menyongsong tahun yang baru.
Tradisi ini telah dijalankan secara turun-temurun dan menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Imlek di klenteng tersebut. Bagi umat, ritual ini bukan sekadar simbol, melainkan wujud penyampaian doa kepada Tuhan sekaligus refleksi diri untuk memulai lembaran baru.
Selain menjaga nilai spiritual dan budaya, kegiatan ini juga mempererat tali persaudaraan, tidak hanya antarumat, tetapi juga dengan masyarakat sekitar. Melalui tradisi Pohon Bodhi sebagai simbol harapan, Klenteng Hok Siang Kiong terus melestarikan kearifan lokal sekaligus menumbuhkan semangat kebersamaan di Kota Mojokerto.













