SURABAYA, LenteraInspiratif.id – Taruna Siaga Bencana (TAGANA) Provinsi Jawa Timur terus memperkuat perannya dalam mitigasi dan pengurangan risiko bencana sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pemerintah daerah menciptakan masyarakat tangguh bencana.
Ketua Forum Koordinator TAGANA Jawa Timur, Twi Adi, menyampaikan bahwa berbagai langkah preventif telah dilakukan, mulai dari pemetaan wilayah rawan bencana, pendataan kelompok rentan, hingga peningkatan kapasitas masyarakat melalui edukasi dan sosialisasi kebencanaan.
“Upaya ini difokuskan pada wilayah dengan potensi bencana seperti banjir, tanah longsor, angin kencang, kekeringan, dan gempa bumi,” ujarnya, Rabu (18/2/2026).
Salah satu program strategis yang dijalankan adalah sosialisasi kebencanaan di lingkungan pendidikan, meliputi Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah Negeri (MAN), hingga pondok pesantren di berbagai daerah di Jawa Timur.
Melalui kegiatan tersebut, TAGANA memberikan materi pengenalan jenis bencana, langkah mitigasi dasar, tata cara evakuasi mandiri, serta simulasi penanganan darurat. Program ini bertujuan menanamkan budaya sadar bencana sejak dini kepada peserta didik, tenaga pendidik, dan pengelola lembaga pendidikan.
Selain itu, TAGANA juga meningkatkan kesiapsiagaan internal melalui pelatihan anggota, simulasi kebencanaan, serta penguatan koordinasi dengan berbagai pihak, seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Sosial, TNI, Polri, dan PMI.
Tidak hanya pada tahap pencegahan, TAGANA Jawa Timur juga berperan aktif saat terjadi bencana. Anggota TAGANA terlibat langsung dalam evakuasi korban, pengelolaan pengungsian, pendirian dapur umum, distribusi bantuan logistik, hingga pemberian dukungan psikososial kepada masyarakat terdampak.
Selanjutnya, pada tahap pascabencana, TAGANA turut membantu proses pemulihan sosial melalui pendampingan korban serta penguatan kembali kapasitas masyarakat.
Namun demikian, Twi Adi mengakui masih terdapat kendala di lapangan, terutama rendahnya pemahaman sebagian masyarakat terkait mitigasi bencana.
“Masih ada masyarakat yang belum memahami cara menghadapi bencana dengan tepat, sehingga risiko dan dampak yang ditimbulkan bisa lebih besar,” jelasnya.
Karena itu, TAGANA Jawa Timur berkomitmen untuk terus meningkatkan edukasi dan sosialisasi secara berkelanjutan, khususnya di wilayah rawan bencana. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat sekaligus menekan jumlah korban dan kerugian akibat bencana alam.












