Lentera Inspiratif, Mojokerto- Malam ke-11 Ramadan diyakini memiliki keutamaan besar bagi umat Islam yang menunaikan shalat Tarawih dengan penuh keikhlasan. Dalam sejumlah riwayat yang populer di tengah masyarakat, disebutkan bahwa orang yang melaksanakan shalat Tarawih pada malam kesebelas akan diwafatkan dalam keadaan suci, seperti bayi yang baru dilahirkan dari perut ibunya bersih dari dosa.
Namun, penting untuk dipahami bahwa riwayat tentang keutamaan Tarawih malam per malam ini tidak ditemukan dalam kitab-kitab hadis utama seperti karya Imam Muhammad al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari maupun Imam Muslim ibn al-Hajjaj dalam Shahih Muslim. Banyak ulama hadis menilai riwayat tersebut berstatus dhaif (lemah), sehingga tidak dapat dijadikan landasan hukum, tetapi masih boleh diamalkan sebatas motivasi ibadah (fadha’il al-a’mal) selama tidak diyakini sebagai hadis sahih.
Secara umum, keutamaan qiyam Ramadan (shalat malam di bulan Ramadan, termasuk Tarawih) memiliki dasar yang kuat. Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa melaksanakan qiyam Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim)
Data dari Kementerian Agama RI setiap Ramadan menunjukkan peningkatan signifikan jumlah jamaah di masjid-masjid pada 10–15 malam pertama Ramadan, termasuk pelaksanaan Tarawih yang rata-rata diikuti 60–80 persen kapasitas jamaah di masjid perkotaan. Hal ini menandakan antusiasme umat dalam mengejar keutamaan Ramadan.
Dengan demikian, meski riwayat khusus malam ke-11 perlu disikapi secara hati-hati, semangat untuk memperbanyak ibadah tetap sejalan dengan ajaran Islam. Tarawih bukan sekadar rutinitas, melainkan momentum penyucian diri agar kelak kembali kepada Allah dalam keadaan bersih dan penuh ampunan.
Yulia Lauranza
Keutamaan Shalat Tarawih Malam ke-11: Wafat dalam Keadaan Suci Seperti Bayi yang Baru Lahir
Malam ke-11 Ramadan diyakini memiliki keutamaan besar bagi umat Islam yang menunaikan shalat Tarawih dengan penuh keikhlasan. Dalam sejumlah riwayat yang populer di tengah masyarakat, disebutkan bahwa orang yang melaksanakan shalat Tarawih pada malam kesebelas akan diwafatkan dalam keadaan suci, seperti bayi yang baru dilahirkan dari perut ibunya bersih dari dosa.
Namun, penting untuk dipahami bahwa riwayat tentang keutamaan Tarawih malam per malam ini tidak ditemukan dalam kitab-kitab hadis utama seperti karya Imam Muhammad al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari maupun Imam Muslim ibn al-Hajjaj dalam Shahih Muslim. Banyak ulama hadis menilai riwayat tersebut berstatus dhaif (lemah), sehingga tidak dapat dijadikan landasan hukum, tetapi masih boleh diamalkan sebatas motivasi ibadah (fadha’il al-a’mal) selama tidak diyakini sebagai hadis sahih.
Secara umum, keutamaan qiyam Ramadan (shalat malam di bulan Ramadan, termasuk Tarawih) memiliki dasar yang kuat. Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa melaksanakan qiyam Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim)
Data dari Kementerian Agama RI setiap Ramadan menunjukkan peningkatan signifikan jumlah jamaah di masjid-masjid pada 10–15 malam pertama Ramadan, termasuk pelaksanaan Tarawih yang rata-rata diikuti 60–80 persen kapasitas jamaah di masjid perkotaan. Hal ini menandakan antusiasme umat dalam mengejar keutamaan Ramadan.
Dengan demikian, meski riwayat khusus malam ke-11 perlu disikapi secara hati-hati, semangat untuk memperbanyak ibadah tetap sejalan dengan ajaran Islam. Tarawih bukan sekadar rutinitas, melainkan momentum penyucian diri agar kelak kembali kepada Allah dalam keadaan bersih dan penuh ampunan.
Yulia Lauranza











