Mojokerto- Berbuka puasa dengan makanan atau minuman manis menjadi kebiasaan yang dianjurkan dalam ajaran Islam sekaligus didukung oleh pertimbangan kesehatan. Praktik ini dinilai efektif membantu tubuh memulihkan energi setelah seharian menahan lapar dan dahaga.
Kebiasaan mengawali berbuka dengan sesuatu yang manis, seperti kurma, teh manis, atau air gula, dilakukan oleh umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa, baik puasa Ramadhan maupun puasa sunnah. Tradisi ini berlangsung setiap kali waktu berbuka tiba, tepat setelah azan Magrib berkumandang.
Praktik berbuka dengan yang manis dapat ditemui di berbagai tempat, mulai dari rumah, masjid, hingga lokasi buka puasa bersama di lingkungan masyarakat. Selain menjadi bagian dari tradisi, kebiasaan ini juga memiliki dasar anjuran dari Rasulullah SAW yang menganjurkan umatnya berbuka dengan kurma atau sesuatu yang manis.
Dari sisi kesehatan, asupan manis membantu mengembalikan kadar gula darah yang menurun selama berpuasa. Setelah berjam-jam tidak mendapatkan asupan makanan dan minuman, tubuh membutuhkan energi yang mudah diserap untuk memulihkan stamina dan mengurangi rasa lemas.
Berbuka dianjurkan diawali dengan mengonsumsi kurma atau minuman manis secukupnya, kemudian dilanjutkan dengan air putih serta makanan utama. Cara ini membantu sistem pencernaan beradaptasi secara bertahap setelah seharian beristirahat.
Meski memberikan manfaat, konsumsi makanan dan minuman manis tetap perlu dibatasi agar tidak berlebihan dan tetap menjaga keseimbangan gizi. Dengan memadukan nilai keagamaan dan pertimbangan kesehatan, berbuka dengan yang manis menjadi kebiasaan sederhana yang memiliki peran penting dalam menjaga kebugaran tubuh serta mendukung kelancaran ibadah puasa.













