LenteraInspiratif.id, Mojokerto – Dinas Lingkungan Hidup Kota Mojokerto (DLH) berencana membentuk RT percontohan Zero Waste sebagai langkah konkret menekan volume sampah dari sumbernya. Program tersebut disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi I DPRD Kota Mojokerto terkait penataan TPA Randegan, Rabu (4/3/2026).
Kepala DLH Kota Mojokerto, Ikromul Yasak, menjelaskan bahwa persoalan sampah di Kota Mojokerto harus diselesaikan dari hulu. Saat ini volume sampah masih sekitar 90 ton per hari. Idealnya, yang masuk ke TPA Randegan hanya residu sekitar 20 ton per hari, namun kenyataannya masih sekitar 60 ton karena pemilahan dari sumber belum berjalan optimal.
“Kami akan membentuk satu RT percontohan Zero Waste sebagai model. Di sana, sampah harus dipilah sejak dari rumah. Organik diolah, anorganik masuk bank sampah, dan hanya residu yang dikirim ke TPA,” jelas Yasak.
Selain itu, DLH juga menyiapkan sistem pengambilan sampah terjadwal berdasarkan jenisnya. Bahkan ke depan, sampah yang tidak dipilah berpotensi tidak akan diangkut sebagai bentuk penegasan tanggung jawab bersama.
“Kami berharap warga memilah sampah dari rumah. Ini bukan hanya tugas pemerintah,” tegasnya.
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kota Mojokerto, Hadi Prayitno, secara umum menilai persoalan sampah memang cukup kompleks karena melibatkan banyak faktor.
“Permasalahan sampah ini kompleks, mulai dari SDM-nya, masyarakatnya, sosialisasinya dan infrastrukturnya,” ujarnya.
Ia menyatakan DPRD akan mendorong penguatan dari sisi penganggaran, terutama untuk mendukung keberhasilan program pengurangan sampah di tingkat masyarakat, termasuk penguatan bank sampah dan sarana pendukung lainnya.
Di sisi lain, perwakilan Forum Terdampak TPA Randegan, Triagung Basuki, berharap program Zero Waste benar-benar dapat mengurangi beban TPA. Warga selama ini mengeluhkan tingginya timbunan sampah yang menimbulkan bau tidak sedap serta berdampak pada kualitas air sumur di sekitar lokasi. (Roe/adv)













