Budaya

Membangun Empati, Reog Satrio Tunas Mudho Galang Dana Untuk Sumatra

Reog Satrio Tunas Mudho
Galang dana Reog Satrio tunas mudho

Lenterainspiratif.id | Kota Mojokerto – Rasa empati harus menjadi bagian kehidupan manusia, termasuk para budayawan sanggar Reog Ponorogo Satrio Tunas Mudho Mojokerto.

 

Misi kemanusiaan menjadi bagian penting dalam membangun cipta, rasa, dan karsa. Reog Ponorogo di Car Free Day Meri tidak hanya mengundang kerumunan, tetapi ikut menggerakkan ekonomi kecil. Di pasar-pasar rakyat, mereka datang bukan sebagai latar, melainkan sebagai pengikat. Bahkan atraksi-atraksi khas dari Ganong yang meloncat bukan sebatas sensasi.

 

Nama mereka menyimpan filosofi yang tidak ringan. Shatrio: prajurit pilih tanding yang berjalan pada nilai. Tunas Mudo: generasi yang bersemi kembali. Regenerasi. Kata itulah yang menjelaskan mengapa ada anak-anak kecil menari Ganong, mengapa tubuh-tubuh muda belajar menanggung beban Dadak Merak, dan mengapa latihan berulang dilakukan jauh dari sorotan.

 

Media sosial hanya merekam sebagian. Video menampilkan tabuhan dan sorak. Yang luput adalah disiplin, lelah, dan kesetiaan untuk terus hadir. Karena itulah poster untuk besok pagi terasa wajar bahkan nyaris pasti. Bukan agenda dadakan, melainkan lanjutan dari kebiasaan.

 

Besok, mereka akan kembali ke tempat yang sama. Kali ini dengan niat tambahan, menggalang dana kemanusiaan. Reog dipanggil untuk fungsi yang lebih tua dari panggung, mengetuk empati.

Galang dana sumatra
Galang dana untuk Sumatra di car free day Meri kota mojokerto

Di tengah zaman yang mudah tergoda budaya pamer, Shatrio Tunas Mudho memilih jalan yang lebih sunyi. Menjadi ada tanpa perlu mengumumkan keberadaan. Menjadi penting tanpa harus terlihat penting. Barangkali di situlah Reog menemukan bentuknya yang paling jujur: tidak sedang membuktikan apa pun, selain kesediaan untuk terus hadir, bagi kota, bagi budaya, dan bagi sesama.

 

Shiro sebagai pengasuh Reog Satrio Tunas Mudho berharap bahwa gerakan kemanusiaan kecil ini bisa meringankan beban saudara yangbterkena musibah.

 

” Selain menjadi budaya yang terkesan hanya bertheater, maka dari sini kami hadir untuk kemanusiaan bahwa budaya bukan hanya manggung tapi lebih penting dari itu yaitu misi kemanusiaan”, katanya Minggu ( 28/12/2025).

 

Tak hanya itu, Reog sebagai budaya bangsa yang harus terus dilestarikan hingga pada lapisan bawah dan jangan sampai diklaim lagi oleh negara lain.

Reog sebagai salah satu budaya tak hanya sebagai seni yang hanya sebagai obyek teater belaka, namun harus mampu membawa rasa empati masyarakat atas kebersamaan, saling membantu, bahu membahu mengatasi masalah sosial termasuk bencana alam di Sumatra.

 

Car freeday sebagai tempat berkumpulnya masyarakat hingga nanti memudahkan kami sebagai seorang seniman mengajak masyarakat agar saling membantu saudara sebangsa dan setanah air untuk mengatasi masalah secara bersama dan gotong royong yakni memilih jalan Galang dana untuk Sumatra.

 

Bagi kami para seniman reog bahwa misi kemanusiaan lebih penting daripada hanya sekedar pementas seni, seni sebagai jalan untuk menggugah kembali empati masyarakat sebagai perwujudan persatuan, keadilan sosial, dan semangat gotong royong.

Makna filosofi sebagai prajurit muda yang tumbuh, kami harus menumbuhkan kembali semangat gotong royong, semangat Pancasila yang semakin luntur, menumbuhkan jati diri bangsa sebagai bangsa yang pernah dikenal sebagai bangsa yang ramah, bangsa yang suka menolong, bangsa yang tak diam ketika saudara sebangsanya mengalami musibah.

 

Harapan kami, bukan hanya masyarakat Mojokerto, agar masyarakat terus berempati kepada sesamanya tidak saling menunggangi kepada masyarakat yang staratanya dibawahnya.

Terakhir, agar masyarakat tidak lupa dengan budayanya, tidak tergerus dengan budaya hedon, tutupnya.

Exit mobile version