TERNATE – Kini Gelombang ribuan Mahasiswa dari berbagai Universitas Kota Ternate melakukan unjuk rasa di depan Gedung DPRD Kota Ternate, Rabu, (25/9/2019).
Demo mahasiswa yang berlangsung di depan Gedung DPRD Kota Ternate, Kelurahan Kalumata, Kecamatan Ternate Selatan, Kota Ternate, sejak tadi pagi berakhir ricuh dengan aparat keamanan, namun suasana ricuhnya tidak berunjung lama.
Berdasarkan hasil pantauan LenteraInspiratif.com diketahui, demo tersebut digelar karena menolak Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) dan Revisi Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi (UU KPK).
Hingga dini hari, 1 orang menjadi korban dari aksi demonstrasi yang berlangsung di depan Gedung DPRD Kota Ternate. Dan aksi tersebut dilakukan Kota Ternate, hingga berbagai daerah diseluruh Indonesia.
Peristiwa bermula ketika gabungan mahasiswa dari organisasi HMI, Unkhair Ternate, UMMU Maluku Utara, STIKIP Kieraha, dan IAIN Ternate kembali menduduki gedung DPRD Kota Ternate, usai sebelumnya sempat lowong ketika dipukul mundur polisi.
Namun, ketika tengah asyik melayangkan orasinya, tiba-tiba lemparan batu terjadi. Mahasiswa segera berlari dan polisi lalu kembali menembakkan gas air mata dan menyirami air dari mobil water canon.
Massa aksi yang sudah berhamburan karena ditembak dengan gas air mata. Ada 1 mahasiswa yang mendapatkan luka di bagian wajah akibat mendapatkan tembakan yang diduga dari peluruh gas air mata.
Korban atas nama Sugiarto A. Hanafi (21) Mahasiswa IAIN Ternate semester 5, di Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan dan juga sebagai Kaders HMI Komisariat Tarbiyah, kini telah dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Chasan Boesari Kota Ternate sekitar pukul 13:30 WIT.
Hal ini disampaikan oleh salah satu saksi mata Ibnu Furqan kepada LenteraInspiratif.com saat ditemui di RSUD mengatakan, bahwa kejadian tersebut berawal ketika masa aksi dan pihak kepolisian telah sudah mulai berlemparan. Selain itu juga, berdasarkan dari pernyataan korban langsung, menurut Ibnu bahwa “ketika si korban mau lari, itu tiba-tiba peluru langsung kenal dibawah mata”, ungkapnya.
“Dan pada saat sebelum kejadian itu, si korban berada di posisi samping kiri jalan, dan itu kemudian banyak orang yang larian”, terang ibnu kepada LenteraInspiratif.com.
Lanjut, Ibnu bahwa jadi arah peluru itu datang dari gedung DPRD, dan saya perhatikan pada saat tembakan itu mengenalnya, langsung si korban itu terjatuh karena peluru tersebut kenal diwajahnya, akhirnya masa aksi yang dibelakang si korban juga terjatuh”, jelasnya.
Ibnu menambahkan setelah si korban itu terjatuh, saya dengan teman disampingnya langsung mengangkat si korban. Jadi, untuk arah peluru itu dari gedung DPRD, “pungkasnya
Jadi kami yakin peluru itu dari arah kantor DPRD. Karena saat ricuh teman-teman semua lari untuk menjauh dari polisi, teman-teman itu karena kaget dengan tembakan, pada akhirnya tidak berhadapan langsung dengan polisi, terang ibnu.
“Jadi, luka si korban itu kurang lebih 1 cm di wajahnya, saat itu wajahnya berlemuran darah”.
Sebenarnya dia pe jenis senjata itu senja ekspleyer, karena pelurunya itu “peluru tipe lama”, dan bukan yang sekarang, “katanya
Sementara itu, Kapolres Kota Ternate, AKP. Azhari Djuanda menjelaskan kepada awak media saat ditemui di RSUD bahwa kejadian ini tiba-tiba adanya saling lempar tadi. Saya dilaporkan bahwa “Kapolres ada kena tembakan”, saat mendengar laporan tersebut, saya juga kaget, “lalu saya bertanya tembakan apa”, tapi setelah saya ricek dan ketemu Ketum HMI, lalu ketum HMI datang memberikan satu bungkus selonsong gas air mata”, ungkapnya.
“Pada saat kejadian juga mohon maaf, saya tidak mendengar ada tembakan dan tidak adanya asap gas air mata juga seketika itu”, jelasnya
Lanjut, Azhari bahwa “Nah, tapi setelah kami lihat selonsongnya, setelah saya cium tidak ada bau bisiumnya, dan itu selonsong yang lama. Karena kalau dari kita itu, untuk gas air mata selonsongnya tinggal didalam, tidak diluar”, jelasnya
Azhari menambahkan tapi saya, tidak mencari pembenaran disini. Apapun itu saya tetap melakukan penyelidikan, tentunya nanti siapapun yang menemukan barang itu pertama kali kami akan periksa juga caranya bagaimana seperti apa, dan anggota pun kami akan melakukan pemeriksaan dalam bentuk kronologisnya. Karena jangan sampai hal-hal seperti ini pihak-pihak yang mencoba membenturkan kepolisian dan mahasiswa, “pungkasnya
Jangan sampai benturan mahasiswa tadi dipergunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk membenturkan suasana dari aksi tadi”, tegasnya
Azhari menyampaikan aksi tadi luar biasa karena berjalan dengan tertib dan tidak terlalu bermasalah,
Dan satu hal lagi kita tidak bisa mencari siapa yang benar dan siapa yang salah dulu, kita luruskan dan pikirkan seperti apa mekanisme dalam penyelidikan. Nanti kami melakukan visum terkait dengan korban, kami sudah melakukan penyelidikan dan surat visum telah kami minta sambil melakukan penyelidikan sesuai dengan aturannya”ungkap Azhari kepada awak media.
Soal adik kita yang korban ini, saya sudah minta kepada dokter bedah dan dokter mata, untuk melakukan operasi, untuk seluruh biaya pengobatan dan segala macam itu sudah menjadi tanggungjawab saya sebagai Kapolres Kota Ternate.
Jika anggota saya yang terlibat, kan ada mekanisme dan kode etik yang sesuai dengan kadar pelanggaran yang dilakukan.
Tapi, belum tentu juga anggota saya yang melakukan itu, karena selonsong ini dia dapat dari mana, apa benar selonsong tersebut pada hari itu, ataukah yang sudah lama,”katanya.
Terpisah, Ibu Chea (keluarga korban) dan juga sebagai kaka sepupu si korban saat ditemui diruang UGD mengatakan bahwa “dari kami sendiri mudah-mudahan adik kami ini bisa sembuh, “ungkapnya.
Sebenar kami trauma dengan kejadian ini, apalagi orang tuanya sementara ada di Kampung (di Kayoa sana), kalau untuk disini dia punya mama tua (Budenya) dan saya sendiri kaka sepupunya. Jadi nanti mamanya datang baru ditanya langsung, kira-kira sikapnya seperti apa, “katanya. (Atir)
Demo Mahasiswa Tolak UU KPK dan RKUHP, 1 Orang Jadi Korban, Dikabarkan Kritis.
Ternate- Kini Gelombang ribuan Mahasiswa dari berbagai Universitas Kota Ternate melakukan unjuk rasa di depan Gedung DPRD Kota Ternate, Rabu, (25/9/2019).
Demo mahasiswa yang berlangsung di depan Gedung DPRD Kota Ternate, Kelurahan Kalumata, Kecamatan Ternate Selatan, Kota Ternate, sejak tadi pagi berakhir ricuh dengan aparat keamanan, namun suasana ricuhnya tidak berunjung lama.
Berdasarkan hasil pantauan LenteraInspiratif.com diketahui, demo tersebut digelar karena menolak Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) dan Revisi Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi (UU KPK).
Hingga dini hari, 1 orang menjadi korban dari aksi demonstrasi yang berlangsung di depan Gedung DPRD Kota Ternate. Dan aksi tersebut dilakukan Kota Ternate, hingga berbagai daerah diseluruh Indonesia.
Peristiwa bermula ketika gabungan mahasiswa dari organisasi HMI, Unkhair Ternate, UMMU Maluku Utara, STIKIP Kieraha, dan IAIN Ternate kembali menduduki gedung DPRD Kota Ternate, usai sebelumnya sempat lowong ketika dipukul mundur polisi.
Namun, ketika tengah asyik melayangkan orasinya, tiba-tiba lemparan batu terjadi. Mahasiswa segera berlari dan polisi lalu kembali menembakkan gas air mata dan menyirami air dari mobil water canon.
Massa aksi yang sudah berhamburan karena ditembak dengan gas air mata. Ada 1 mahasiswa yang mendapatkan luka di bagian wajah akibat mendapatkan tembakan yang diduga dari peluruh gas air mata.
Korban atas nama Sugiarto A. Hanafi (21) Mahasiswa IAIN Ternate semester 5, di Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan dan juga sebagai Kaders HMI Komisariat Tarbiyah, kini telah dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Chasan Boesari Kota Ternate sekitar pukul 13:30 WIT.
Hal ini disampaikan oleh salah satu saksi mata Ibnu Furqan kepada LenteraInspiratif.com saat ditemui di RSUD mengatakan, bahwa kejadian tersebut berawal ketika masa aksi dan pihak kepolisian telah sudah mulai berlemparan. Selain itu juga, berdasarkan dari pernyataan korban langsung, menurut Ibnu bahwa “ketika si korban mau lari, itu tiba-tiba peluru langsung kenal dibawah mata”, ungkapnya.
“Dan pada saat sebelum kejadian itu, si korban berada di posisi samping kiri jalan, dan itu kemudian banyak orang yang larian”, terang ibnu kepada LenteraInspiratif.com.
Lanjut, Ibnu bahwa jadi arah peluru itu datang dari gedung DPRD, dan saya perhatikan pada saat tembakan itu mengenalnya, langsung si korban itu terjatuh karena peluru tersebut kenal diwajahnya, akhirnya masa aksi yang dibelakang si korban juga terjatuh”, jelasnya.
Ibnu menambahkan setelah si korban itu terjatuh, saya dengan teman disampingnya langsung mengangkat si korban. Jadi, untuk arah peluru itu dari gedung DPRD, “pungkasnya
Jadi kami yakin peluru itu dari arah kantor DPRD. Karena saat ricuh teman-teman semua lari untuk menjauh dari polisi, teman-teman itu karena kaget dengan tembakan, pada akhirnya tidak berhadapan langsung dengan polisi, terang ibnu.
“Jadi, luka si korban itu kurang lebih 1 cm di wajahnya, saat itu wajahnya berlemuran darah”.
Sebenarnya dia pe jenis senjata itu senja ekspleyer, karena pelurunya itu “peluru tipe lama”, dan bukan yang sekarang, “katanya
Sementara itu, Kapolres Kota Ternate, AKP. Azhari Djuanda menjelaskan kepada awak media saat ditemui di RSUD bahwa kejadian ini tiba-tiba adanya saling lempar tadi. Saya dilaporkan bahwa “Kapolres ada kena tembakan”, saat mendengar laporan tersebut, saya juga kaget, “lalu saya bertanya tembakan apa”, tapi setelah saya ricek dan ketemu Ketum HMI, lalu ketum HMI datang memberikan satu bungkus selonsong gas air mata”, ungkapnya.
“Pada saat kejadian juga mohon maaf, saya tidak mendengar ada tembakan dan tidak adanya asap gas air mata juga seketika itu”, jelasnya
Lanjut, Azhari bahwa “Nah, tapi setelah kami lihat selonsongnya, setelah saya cium tidak ada bau bisiumnya, dan itu selonsong yang lama. Karena kalau dari kita itu, untuk gas air mata selonsongnya tinggal didalam, tidak diluar”, jelasnya
Azhari menambahkan tapi saya, tidak mencari pembenaran disini. Apapun itu saya tetap melakukan penyelidikan, tentunya nanti siapapun yang menemukan barang itu pertama kali kami akan periksa juga caranya bagaimana seperti apa, dan anggota pun kami akan melakukan pemeriksaan dalam bentuk kronologisnya. Karena jangan sampai hal-hal seperti ini pihak-pihak yang mencoba membenturkan kepolisian dan mahasiswa, “pungkasnya
Jangan sampai benturan mahasiswa tadi dipergunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk membenturkan suasana dari aksi tadi”, tegasnya
Azhari menyampaikan aksi tadi luar biasa karena berjalan dengan tertib dan tidak terlalu bermasalah,
Dan satu hal lagi kita tidak bisa mencari siapa yang benar dan siapa yang salah dulu, kita luruskan dan pikirkan seperti apa mekanisme dalam penyelidikan. Nanti kami melakukan visum terkait dengan korban, kami sudah melakukan penyelidikan dan surat visum telah kami minta sambil melakukan penyelidikan sesuai dengan aturannya”ungkap Azhari kepada awak media.
Soal adik kita yang korban ini, saya sudah minta kepada dokter bedah dan dokter mata, untuk melakukan operasi, untuk seluruh biaya pengobatan dan segala macam itu sudah menjadi tanggungjawab saya sebagai Kapolres Kota Ternate.
Jika anggota saya yang terlibat, kan ada mekanisme dan kode etik yang sesuai dengan kadar pelanggaran yang dilakukan.
Tapi, belum tentu juga anggota saya yang melakukan itu, karena selonsong ini dia dapat dari mana, apa benar selonsong tersebut pada hari itu, ataukah yang sudah lama,”katanya.
Terpisah, Ibu Chea (keluarga korban) dan juga sebagai kaka sepupu si korban saat ditemui diruang UGD mengatakan bahwa “dari kami sendiri mudah-mudahan adik kami ini bisa sembuh, “ungkapnya.
Sebenar kami trauma dengan kejadian ini, apalagi orang tuanya sementara ada di Kampung (di Kayoa sana), kalau untuk disini dia punya mama tua (Budenya) dan saya sendiri kaka sepupunya. Jadi nanti mamanya datang baru ditanya langsung, kira-kira sikapnya seperti apa, “katanya. (Atir)



