
HALUT – Aksi demonstrasi menuntut kenaikan harga kopra, Rabu (28/11) di kantor DPRD Halmahera Utara, oleh masyarakat petani kopra kecamatan Galela, Galela Selatan, Galela Barat dan Galela Utara, berakhir bentrok dengan aparat Kepolisian Resort (Polres) Halmahera Utara.
Awalnya, ribuan masa tersebut datang dengan damai. Sayangnya, harusnya aksi tersebut berjalan tenang, tiba-tiba berubah dengan perilaku pembakaran ban dan daun kelapa, oleh para demonstran, di sepanjang pagar kantor para wakil rakyat itu.
Tidak puas dengan hal itu, para demonstran, coba merengsek masuk kedalam kantor guna bertemu anggota DPRD, namun dihalangi oleh pagar betis aparat kepolisian. Tidak terima langkah mereka dihalangi, para demonstran berupaya membongkar blokade aparat kepolisian, dan terus merengsek maju, memasuki gedung wakil rakyat. Alhasilnya, pihak kepolisian terpaksa mengeluarkan tembakan gas air mata disertai dengan siraman dari mobil water canon, guna mengusir para demonstran.
Satu jam bergelut dengan bentrokan, aksi demonstrasi pun berjalan kembali normal, setelah adanya mediasi antara perwakilan masa aksi dengan aparat kepolisian. “Kita minta berkomunikasi, anda tidak mau. Anda mau dengar siapa, Kepolisian hadir untuk mengawal aksi ini, “sesal salah satu anggota kepolisian.
Sekedar diketahui, sehabis melakukan aksi di depan kantor DPRD, para pendemo melanjutkan aksinya di depan kantor Bupati Halmahera Utara. Aksi ini, juga menuntut kepastian dari pemerintah daerah. “Kita di Galela Utara, harga kopra masih Rp.1.900, sedangkan di Tobelo sudah mencapai angka Rp.3.800. Kita butuh, kepastian dari pemda, besok harga kopra, sudah sama, di level Rp.5000, “ungkap salah satu aksi demonstrasi yang berada di hadapan wakil Bupati, Ketua DPRD, dan Ketua Komisi C, saat berlangsungnya hearing terbuka. (reynol/dit)





