Lentera Inspiratif, Mojokerto- Salat Tarawih adalah ibadah sunah yang sangat dianjurkan selama bulan Ramadan. Setiap malam diyakini memiliki keutamaan yang berbeda. Pada malam ketiga, umat Islam percaya bahwa Allah SWT akan mengampuni semua dosa yang telah lalu bagi hamba-Nya yang melaksanakan Tarawih dengan penuh iman dan keikhlasan.
Keyakinan ini sejalan dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, di mana Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang melaksanakan qiyam Ramadan (salat malam di bulan Ramadan) karena iman dan mengharapkan pahala (ihtisab), maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)
Hadis ini tercantum dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, yang keduanya disepakati sebagai kitab hadis paling sahih setelah Al-Qur’an. Istilah *qiyam Ramadan* dalam hadis tersebut dipahami oleh para ulama sebagai salat Tarawih yang dilaksanakan secara berjamaah maupun sendiri di malam hari selama bulan Ramadan.
Secara umum, tidak ada hadis sahih yang secara khusus dan terperinci menyebutkan keutamaan Tarawih pada malam pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya dengan rincian yang berbeda. Banyak riwayat yang beredar di masyarakat mengenai keutamaan setiap malam Tarawih, namun sebagian besar dianggap lemah (dhaif) oleh para ulama hadis. Oleh karena itu, landasan utama keutamaan malam ketiga tetap merujuk pada hadis sahih tentang ampunan dosa bagi orang yang menegakkan qiyam Ramadan dengan iman dan harapan pahala.
Ampunan dosa yang dijelaskan oleh para ulama umumnya dipahami sebagai dosa-dosa kecil (shaghair), sedangkan dosa besar tetap memerlukan taubat yang khusus. Hal ini dijelaskan dalam berbagai kitab syarah hadis oleh para ulama, yang menekankan pentingnya niat, keikhlasan, dan konsistensi dalam beribadah.
Dari perspektif spiritual, malam ketiga menjadi momentum untuk refleksi diri. Setelah memasuki hari-hari awal Ramadan, umat Islam mulai membangun ritme ibadah dengan menahan lapar dan dahaga di siang hari serta menghidupkan malam dengan Tarawih. Pada fase ini, harapan akan ampunan menjadi motivasi utama untuk memperbaiki diri, meninggalkan kebiasaan buruk, serta memperbanyak amal saleh.
Dengan demikian, malam ketiga Tarawih menjadi kesempatan yang sangat berharga untuk meraih ampunan Allah SWT. Melalui iman yang tulus dan harapan akan pahala, setiap rakaat yang dilaksanakan menjadi jalan untuk menghapus dosa-dosa yang telah lalu serta membuka lembaran baru kehidupan yang lebih bersih dan bertakwa.











