HOME // Budaya // Jawa Timur // Wisata

 

Dibalik Candi Kesiman Air Suci Untuk Bertahan Hidup

  Sabtu, 20 Februari 2021

Candi Kesima Air Suci Untuk Bertahan Hidup
candi kesiman

lenterainspiratif.id | Candi Kesiman di Mojokerto, Jatim tak hanya menawarkan panorama cantik pegunungan. Salah satu relief di candinya berkisah tentang Amerta atau air suci yang konon dapat membuat seseorang hidup abadi dan tidak bisa mati. Penasaran?

Tiupan angin yang berhembus pelan membawa kesejukan kawasan Pacet. Ditambah lagi, sejauh mata memandang, hamparan areal persawahan yang baru saja ditanami menambah kental suasana khas pegunungan.
Persis di Dusun Kesiman, Desa Kesiman Tengah, Kecamatan Pacet itu, bangunan sejarah berdiri kokoh di atas undukan bukit. Bangunan itu dinamai Candi Kesiman. Candi yang dinamai persis dengan nama dusun setempat. Bangunan candi dikelilingi tanaman bunga warna-warni dan pagar kawat duri. Di bagian luarnya, hamparan tanaman bawang dan persawahan bersandingan.

Letaknya sekitar 500 meter dari Jalan Raya Pacet-Gondang dan 200 meter dari jalan poros desa. Untuk menjangkau lokasi, pengunjung bakal menelusuri jalanan sempit berlumpur lebih mirip pematang sawah. Berjarak 50 meter sebelum candi, pengunjung melintasi pematang sawah dengan lebar kurang dari setengah meter. Lokasi candi berada di lereng bukit. Dari situ terlihat jurang dimana berada anak sungai yang dinamai Kali Cungkup oleh warga setempat.

BACA JUGA :   Runtuhan Struktur Bangunan Kuno Di Kemlagi Diduga Ada Keterkaitan Dengan Kerajaan Majapahit 

Persis dari lokasi candi, apabila cuaca cerah, pengunjung dapat melihat hamparan pegunungan yang melingkupi kawasan Mojokerto bagian tenggara yakni Gunung Welirang, Gunung Sidiran, dan Gunung Biru. Letaknya yang tinggi juga memungkinkan setiap pengunjung mendapati pesona pemandangan aduhai khas pegunungan Pacet.
Kendati demikian, pesona Candi Kesiman tak kalah menariknya dengan pemandangan di sekitarnya. Candi yang diperkirakan dibangun pada masa akhir era Kerajaan Majapahit itu dulunya dimungkinkan digunakan sebagai tempat bersemedi atau melakukan ritual khusus.

“Candi ini memiliki panjang 10,2 meter, lebar 7,2 meter dan tinggi 5 meter. Bagian depan yang menjorok tingginya 3 meter,” kata Warsilah, penjaga candi.

Mbak Sri sebagai warga disitu menyebutkan, candi berbahan batu andesit itu dulunya dijaga turun temurun mulai kakek hingga ayahnya. Sejak 1996, ibu satu anak ini menjaga dan merawat bangunan candi. Termasuk, kala candi diselimuti abu vulkanik hasil erupsi Gunung Kelud, sebulan yang lalu.

Perempuan 36 tahun ini memaparkan kondisi candi dan berbagai relief yang menghiasi tubuh candi. Di antaranya, berisi relief Hanoman, kepala Kala, Kinara-Kinari, dan relief utama Samudramanthana. Relief utama ini berisi cerita perebutan Amerta atau air suci. Di dalamnya, terdapat relief sejumlah binatang yang merupakan jelmaan beberapa dewa seperti Siwa dan Wisnu.

BACA JUGA :   Wana Wisata Air Panas Padusan Pacet, Sudah Dibuka

“Dalam cerita relief tersebut disebutkan apabila siapa saja yang mampu mendapatkan Amerta atau air suci bakal mendapat keabadian atau tidak bisa mati,” tutur Warsilah Penjaga tempat itu.

Sejumlah literatur menyebutkan, relief Samudramanthana tersebut berkaitan erat dengan mitologi pembebasan kutukan. Hal itu seperti yang terdapat di Candi Cetho di Kabupaten Karang Anyar Jawa Tengah. Di mana, lokasi candi sering dipakai ritual tolak bala atau penyucian kembali manusia.

Senada dengan hal itu, Warsilah juga menuturkan bahwasannya, beberapa pengunjung candi juga kerap menggunakan lokasi candi sebagai lokasi ritual. Pengunjung biasanya menggunakan dua lokasi candi yang unik, yakni Gerba dan Gerha. Keduanya adalah ruangan yang terdapat di bagian depan dan tengah bangunan candi.
“Biasanya pengunjung menggunakan ruangan yang tengah,” kata Warsilah penjaga tempat itu.

Ruangan bagian dalam candi ini, tertutupi dinding candi setinggi lima meter. Di dalamnya terdapat beberapa batu persis tempat persembahan yang menghadap arah barat seperti arah depan candi. Disamping terdapat relief candi yang unik, Candi Kesiman dikatakan Warsilah dulunya adalah candi yang belum selesai dikerjakan. Sebab, bagian atas candi tidak ditemukan.

BACA JUGA :   Fakta Baru, Pelaku Pembunuhan Wanita di Jurang Pacet Terlihat Kekejamanya

“Dari pondasi, badan, dan bilik, ada. Tapi bagian atas atau atap candi tidak ada,” tandasnya.
Dari literatur yang dimiliki Warsilah, terbitan BP3 Jawa Timur silam, bagian atap candi mengalami kerusakan. Sejumlah batu candi tidak ditemukan ketika diteliti oleh beberapa peneliti Belanda dan Indonesia.

Karena lokasinya yang jarang diketahui, jumlah pengunjung candi tersebut relatif sedikit dibandingkan candi-candi lainnya di Mojokerto. Per Januari 2021, terdapat 445 pengunjung yang terdiri dari warga, siswa, peneliti, dan mahasiswa. Anak-anak sekolah yang datang biasanya belajar sejarah, relief, dan kesenian dengan melukis pemandangan sekitar.

Sementara itu, dikonfirmasi terpisah Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Aris Soviani menyebutkan, Candi Kesiman merupakan candi yang diperkirakan dibangun pada akhir era Kerajaan Majapahit. “Meski bahan batunya dari batu Andesit, diperkirakan candi itu dibangun akhir kejayaan Kerajaan Majapahit,” jelasnya. ( Ainul yaqin)

<< Kembali | Selanjutnya >>






Berkomentarlah yang bijak. Apa yang anda sampaikan di kolom komentar adalah tanggungjawab anda sendiri.




VIDEO TERKINI