HOME // Opini

 

Lupa Sejarah

  Minggu, 25 Februari 2018

Faidi Ansori
Mahasiswa: Jurusan Sosiologi Fisib Universitas Trunojoyo Madura (UTM), dan Pengurus Cabang GMNI DPC Bangkalan, Madura di Kabiro Kajian pereode 2017/2020.

 

“Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dari pada bangsa-bangsa di dunia. Di dalamnya menyimpang jutaan, triliunan, bahkan tak terhingga akan peradabannya, tinggal kita membaca sejarahnya untuk menemukan jatidiri bangsa kita yang sebenar-benarnya”
Nusantara bukanlah produk penjajah (eropa). Indonesia hasil sintesis dari pada perjuangan rakyat Indonesia dari dan belenggu ekploitasi Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM) oleh bangsa eropa. Kita tak pernah kalah dengan siapapun termasuk para penjajah seperti Portugis, Belanda, Jepang, Ingris, Amerika, dan Australia. Ini pun perlu kita pelajari untuk memafahami dimana letak sejatinya esensi dan eksistensi bangsa kita. Namun perlu diketahui semua, bahwa bangsa kita seringkali kalah dalam peperangan dan pertengkaran, serta kekalahan tersebut disebabkan ulah bangsa kita sendiri, tetapi kita punya PR besar untuk menjawab akan kekalahan kita, dari mana akar muasal masalahnya.
Sejarah bangsa terdahulu seperti Suarna Dwipa, Nusantara dan Indonesia pada awal berdirinya serta darah perjuangannya tidak akan pernah kita akan dapati dengan sebenar-benarnya kalau kita tidak membacanya. Lupa akan sejarah bangsa sendiri sama saja dengan melupakan kelahirannya, jikalau lupa akan kelahiran sendiri maka cita-cita dari padanya tidak akan membawa kemana arah bangsa kita sekarang dan akan datang, hal tersebut dapatlah dipastikan. Saya kira Bung Karno tidak perlu mengulang-ulang lagi perkataannya “Jangan sekali-kali melupakan sejarah (Jasmerah)”.
Teks sejarah haruslah dipelajari sebaik-baik dan setekun-tekunnya untuk didapati hikmah di dalamnya. Kita banyak kenal para tokoh-tokoh besar bangsa Nusantara seperti Gajah Mada, Arya Wiraraja, Raden Wijaya, Hayam Wuruk, dan lain-lain, namun kita lupa apa peran dan perjuangan daripada mereka. Terlalu banyak bangsa ini yang menyebut nama-nama para tokoh terkemuka di dalam roman sejarah nenek moyang bangsa Indonesia, tetapi terlalu banyak pula yang tidak tahu sepak terbang dari mereka. Di zaman Moderen kita sering membaganggakan perjuangan Sukarno, Hatta, Sahrir, Tan Malaka, Pak Tjokro, Samoen, Alimin, Tjipto, Agus Salim, Gatot Mangkupradja, Saman Hudi, RA. Kartini, Buya Hamka, Daker, KH. Hasyim Asyari, KH. Ahmad Dahlan, dan tohoh Faunding Father yang lain, namun lagi-lagi itu hanya menjadi buah bibir dialektika. Itu semua di karenakan ketidak mengertian akan esensi dari pada perjuangan mereka yang membuat emperium besar menyatukan dari Sabang sampai Merauke.
Dimana-mana di setiap bangsa pasti mempunyai sejarah penting untuk diketahui menuju nasib masa depan bangsa dan negaranya. Coba kita ambil contoh bangsa arab, di sana ada manusia yang berkaliber sangat tinggi dan mempunyai sifat dan perjuangan revolusioner sehingga mampu mencerahkan bangsa tersebut, dialah Nabi Muhammad. Sampai sekarang cita-cita dan perjuangannya menjalar ke seantero dunia. Dari bangsa Yunani, kita menemukan ada banyak tokoh yang mampu menstimulasi tokoh-tokoh besar dunia di dalam bidang Filsafat dan Ilmu Pengetahuan, diantaranya ada Socrates, Aristotes, Plato. Di Prancis ada Napoleon. Di Turki ada Badiuzzaman Said Nursi. Di India ada Mahatma Ghandi dan Nehru. Di Mesir ada Muhammad Abduh, dan tentu di negara-negara lain pasti punya tokoh besar yang membawa nasib bangsa dan negara kearah gemilang hanya untuk di pelajari oleh anak-anak bangsa setelahnya.
Namun kita sekarang sudah terlalu banyak yang tidak mau mencari tahu akan sejarah bangsa Indonesia dan nenek moyang darinya. Banyak diantara kita yang di ninabobokkan oleh alat-lat impor Eropa. Buku sudah tidak terlalu seksi untuk dipegang dan dibaca. Nama-nama para pahlawan tidak lagi asik di ruang-ruang masyarakat. Negara seakan hanya di jadikan simbol. Budaya cukup di pertontonkan di media. Politik di peruntukkan untuk kekuasaan, dan Ekonomi hanya untuk membuncitkan perut serta dompet untuk mengangkat status sosial. Semua ini desebabkan karena ketidakfahaman akan sejarah bangsa ini.
Beraneka ragam persolan satu kepersoalan lain seakan-akan dijadikan rantai yang tidak boleh putus. Seperti persoalan antar agama yang dibesar-besarkan. Hanya karena surat tuhan, tuhannya pun dibela dan yang melecehkannya dikatakan kafir walaupun sudah kafir pada hakikatnya. Dengan adanya problematika tersebut bangsa kita semakin terpecah. Nasionalisme tidak lagi dinggap ada. Perpecahan semakin diperkuat dengan dorongan statmen dalil-dalil, persatuannya semakin terganggu. Kelompok-kelompok semakin mencokol, padahal tempat bernaung sudahlah ada dan disetujui oleh semua kalangan yaitu Pancasila. Namun Pancasila semakin lama tidaklagi dijadikan pegangan untuk saling menggandengkan tangan memperkuat diri suatu bangsa. Para politisi dan media menjadikan kesempatan didalam celah-celah persolan bangsa ini. Saya jadi ingat bangaimana perjuagan para rokoh pahlawan untuk menyatukan bangsa Indonesia dari cekalan kolonialisme, kapitalisme, imperilalisme, dan feodalisme. Rapat BPUPKI dibentuk hanya untuk menyatakan sikap terhadap penjajah menuju kemerdekaan. Pancasila digali untuk menyatukan yang terpecah. Undang-undang di buat untuk kemeslahatan umat dan bangsa. Namun kali ini bangsa kita melupakan tali sejarah itu. Para pahlawan rela dipenjara, dibuang, dan diasingkan hanya untuk kemerdekaan bangsa ini, tetapi kita sulit bisa memahami peristiwa tersebut. Kita lebih suka untuk memperbesar golongan dan gerombolan sendiri. Adu kekuatan hanya untuk menunjukkan kaliber kelompok.
Tidak hanya persolan golongan, banyak diantara kita sudah tidak mau tahu akan hasil pemikiran gemilang dari para tokoh-tokoh besar pendiri bangsa kita. Kita coba ambil contoh RA. Kartini yang menjadi manusia ibu pertiwi pejuang nasib para perempuan bangsa Indonesia dengan pemikirannya yang mencengangkan tetang Feminisme ala Indonesia. Namun kita lebih bangga pada pemikiran tokoh-tokoh bangsa lain yang tidak mampu menutup kran kapitalisme bangsa mereka sendiri. Selain itu kita banyak melupakan sejarah pemikiran raja tanpa mahkota, yaitu pemikiran HOS. Tjokroaminoto yang membuahi Islam dan Sosialisme, namun masih juga bangsa kita terjebak terhadap teori-teori lain dari bangsa lain yang kemudian mempertentangkan antra timur dan barat. Termasuk juga pemikiran Tan Malaka yang kemudian dikenal dengan Materialisme Dialektika dan Logika (MADILOG), sementara ini bangsa kita dianggap haram untuk mempelajari pemikirannya, karena Tan Malaka dianggap Komunis, padahal dirinya keluar dari Partai Komunisme Indonesia (PKI) sedangkan kita selalu terjebak pada terori-teori seperti teori Sosiologi, Filsafat, dan Ekonomi dari tokoh bangsa lain, walaupun dengan teori dan ide Tan baik, namun karena dianggap Komunis kita tak mau mempelajarinya, padahal seharusnya kita berterimaksih banyak pada Tan Malaka karena dialah yang punya gagasan pertana dengan nama Republik Indonesia. Sedangkan yang lain lagi, seperti Ideologi Marhernisme yang digagas oleh Sukarno. Saat pemerintahan Orde Baru gagasan presiden pertama kita sengaja disuramkan untuk tidak bisa dibaca dan dipahami oleh bangsa Indonesia. Sungguh kita tidak lagi merdeka dalam segala halnya karena kita terlalu terlena dengan teori dari pada bangsa lain di dunia ini. Jadi saya kira cukup jelas, bangsa kita kurang mental untuk mempelajari Ilmu Pengetahuan yang tumbuh besar di sejarah era Orde Lama tersebut. Hal ini sangatlah konyol. Sejarah pemikiran para pendiri bangsa ini tidak lagi dianggap ngetren oleh anak bangsa Indonesia. Bagaimana mungkin di waktu sekarang dan akan datang bangsa kita akan berkembang dan maju kearah revolusioner kalau masih tetap pada teori-teori imporan tersebut.
Dilain sisi bangsa Indonesia sulit mengenal akan tujuh kerajaan besar terdahulu dua ribu lima ratus tahun yang lampau, ketika bangsa ini bernama Suarna Dwipa yang berarti pulau-pulau emas dan ini tercatat di dalam buku Ramayana serta juga tercatat di dalam cerita-cerita dari klasik Hindu. Setelah itu bangsa kita bernama Sriwijaya di waktu abad ke IX, dan di abad XII negeri ini bernama kerajaan Majapahit di waktu negeri itulah bangsa kita dikenal ke seantero negeri, tidak ada negeri beradap yang mampu melebihi dalam segala seginya dari pada bangsa Nusantara. Bung Karno pernah mengatakan “abad keempatbelas waktu negeri kami bernama Majapahit, kami punya negeri jang terkenal makmur telah mencapai tingkatan ilmu jang demikian tinggi sehingga menjadi pusat ilmu pengetahuan bagi seluruh dunia-beradab”(Penyambung Lidah Rakyat  Biography As Told To Cindy Adams, halaman 17). Sayang sekali di zaman pos-moderen ini bangsa kita sudah berbalik arah ke barat. Ilmu-ilmu imporan sulit di reduksi.
Tidak hanya kekayaan Ilmu dan peradaban, namun kita juga merupakan pengimpor dan ini selaras dengan apa yang diterangkan oleh Sukarno bahwa bangsa Nusantara sebelum masuknya kapitalisme dan imeprialisme bangsa barat, kita merupakan bangsa yang kaya dan pengimpor terhadap negara lain. Jadi saya kira cukup jelas apabila anak bangsa kita mempelajari sejarah dengan baik, apalagi kita akan pasti menemukan kemegahan karya, karsa, cipta bahwa nenek moyang negeri ini merupakan pembuat lagu, pelukis hebat, pencinta tari, dan pengukir, namun sayang seribu kali sayang ketika jawa di duduki pada abad XVI dan Maluku di duduki di abad XVII bangsa ini semakin kehilangan kekuatan, tidak lain semua itu disebabkan karena kekuatan penjajah belanda mencokol di negeri ini, kemudian tidak hanya itu, datanglah penjajah negeri lainnya seperti Jepang, Ingris, Amerika, dan Australia. Maka di saat itulah bangsa Nusantara semakin kehilangan persatuan, kekuatan, dan keberanian untuk menegagkan kembali kejayaannya.
Dengan masuknya penjajah ke negeri ini kita menjadi negara yang patah semangat, tak kuat, kecil hati, merasa rendah diri. Kesempatan untuk merdeka dan menyusun kekuatan semakin dikekang oleh kolonialisme dan kapitalisme bangsa barat, tatapi dengan lamanya kita diperbudak, dibodoh-bodohi, bahkan sampai pula bangsa kita oleh mereka dikatakan sebagai bangsa tempe, yang lembek, dan tidak mungkin akan kembali pada puncak kejayaannya. Namun karena lamanya bangsa kita di sempitkan, serta dieksploitasi baik mental maupun fisiknya, maka pada tangal Mei 1908 kesadaran mulai tumbuh dengan semangat kemerdekaan atas lahirnya organisasi Budi Utomo (BU), Sarikat Islam (SI) 1912 yang berjuang dengan gaya moderatnya melawan penjajah, Partai Komunisme Indonesia (PKI) pada 23 Mei 1920 dengan cara revolusioner melawan kolonialisme, kapitalisme, dan imperialisme penjajah. Tak lama kemudian lahirlah Partai Nasional Indonesia (PNI) pada 4 Juli 1927, pada waktu itulah PNI menggegerkan Belanda dengan gerakan progresif revolusionernya dengan simbol-sombol kata merdeka. Tak lupa penting juga lahirnya organisasi kepemudaan yang kemudian dikenal dengan lahirnya sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Dengan munculnya organisasi ini semakin tumbuh rasa kesadaran untuk melepaskan diri dari penjajahan. Sehingga dengan munculnya organisasi kepemudaan dan semangat dari pada mereka, maka revolusi 17 Agustus 1945 menjadi tonggak awal berdirinya Indonesia merdeka. Namun sangat disayangkan sekali, perjuangan kemerdekaan awal dari para pahlawan-pahlawan itu tak kunjung usai pada batasnya hingga saat ini. Maka pertanyaannya, apakah bangsa ini tidak mengerti akan perjungan bangsa terdahulu? Ataukah kita tidak mengetahui pekak-pekik perjuangan mereka sehingga kini bangsa Indonesia tak merdera 100% ? Pertanyaan ini timbul dibenak saya dan ada apa dengan bangsa Indonesia sekarang. Ini menjadi PR bagi kita semua sebagai rakyat Indonesia. Maka saya harap supaya perdalamkanlah keilmuan kita tentang sejarah bangsa Indonesia dan segeralah realisasikan kalau sudah kita ketahui dan tampakkanlah dengan bukti nyata di ruang-ruang sosial Masyarakat.





Berkomentarlah yang bijak. Apa yang anda sampaikan di kolom komentar adalah tanggungjawab anda sendiri.



VIDEO TERKINI