Lagu buruh tani ternyata ini penciptanya ! - Lentera Inspiratif

HOME // Budaya

 

Lagu buruh tani ternyata ini penciptanya !

  Sabtu, 4 November 2017

Lenterainspiratif.com
Siapa yang tak kenal dengan lagu “Buruh Tani”. Lagu ini selalu dinyanyikan di setiap aksi-aksi demonstrasi hingga saat tulisan ini dibuat. Diciptakan pada tahun 1996 dan baru boomingpada tahun 1997.
Siapakah penciptanya?
Tak banyak orang tahu, dan sepertinya tak ada yang berusaha mencari tahu. Coba lihat di YouTube, tidak ada seorang pengunggah pun yang mencantumkan nama penciptanya, atau paling tidak tulislah “NN” (tanpa nama atau tidak diketahui namanya). Ini adalah kode etik ketika seseorang meng-copy sebuah karya orang lain.
Nama penciptanya adalah Safi’i Kemamang. Seorang pria kelahiran Lamongan, Jawa Timur, 5 Juni 1976. Saat dihubungi, Safi’i mengatakan bahwa judul lagu tersebut sebenarnya bukan “Buruh Tani”, melainkan “Pembebasan”.
Apa yang melatarbelakangi terciptanya lagu “Pembebasan”?
Saat lagu Pembebasan dibuat, Safi’i sudah tergabung dengan PRD (Partai Rakyat Demokratik) di wilayah Jawa Timur, yang waktu itu masih bergerak di bawah tanah. Namun ia terpaksa harus muncul legal saat KNPD (Komite Nasional Perjuangan Demokrasi) dibentuk mengingat tidak ada yang mau, akibat trauma peristiwa KUDATULI (Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli) pada tahun 1996.
Pada saat itu, di tengah-tengah represifitas sebuah rezim, Safi’i maupun kawan-kawannya yang lain butuh penyemangat. Safi’i menyadari, perjuangan politik tanpa musik akan terasa garing (kering). Ia tahu, Soeharto tidak berdiri sendiri. Penguasa Orde Baru itu terkait erat  dengan kekuatan yang lain. Satu-satunya solusi untuk menghadapinya adalah perlunya persatuan di antara mereka. Persatuan yang paling mungkin adalah antara buruh, tani, mahasiswa, dan kaum miskin perkotaan. Mengapa? Golongan inilah yang paling merasakan dan menjadi korban dari segala kebijakan yang diambil oleh Sang Rezim.
“Intinya, harus membuat garis penghubung yang jelas antara semangat, persatuan dan aksi yang mampu menjaga konsistensi perjuangan. Dan salah satu instrumen untuk menjaga garis konsistensi tersebut adalah syair dan musik,” imbuhnya.
Menurut Safi’i, secara personal ia tidak terlahir dari keluarga musisi. Tetapi murni sebagai keluarga petani yang sangat menderita pada saat itu. Tidak jelasnya masa depan pertanian membuat kedua orang tuanya harus pergi meninggalkan sawah dan kebun mereka, pergi merantau ke kota menjadi kaum Urban. Sejak saat itu mulai timbul ketidakterimaan dalam dirinya.
“Saya baru mulai mengenal bermain gitar ketika duduk di bangku STM. Musik-musik perjuangan dari negeri lain, saya tidak tahu. Baik karena susahnya akses, juga karena faktor penguasaan bahasa asing-ku yang buruk. Satu-satunya referensi hanya lagu perjuangan dalam negeri, seperti Halo-Halo Bandung, Garuda Pancasila, dan sebagainya,” tambahnya.
Tentang lirik lagu “Pembebasan”
Selain judul lagu yang banyak orang tidak tahu, lirik lagu yang kerap kita dengar pun melenceng dari aslinya. Entah siapa yang mula-mula merubahnya. Dari beberapa video yang diunggah di Youtube, kebanyakan mereka mengambil dari salah satu video versi akustik yang dinyanyikan oleh beberapa laki-laki dan perempuan (tertulis dalam judul video tersebut: Marjinal – Buruh Tani).
Nah, video inilah yang mereka jadikan referensi untuk mengunggah video-video selanjutnya dengan mengambil musiknya saja, lalu mengganti visualnya dengan foto-foto aksi atau video aksi. Rata-rata mereka memberi judul pada videonya: Marjinal – Buruh Tani, sehingga akan kita temukan banyak sekali video dengan judul yang sama. Kalau mereka ingin menyanyikannya sendiri (tidak mengambil musik dari video tersebut), maka pada judul video akan tertulis: “Marjinal – Buruh Tani (Cover: nama penyanyi)” atau “Nama si pembawa lagu – Cover Marjinal”.

BACA JUGA :   Gubug Wayang Yensen Project, Museum Wayang Satu-satunya di Jawa Timur

Laman: 123






Berkomentarlah yang bijak. Apa yang anda sampaikan di kolom komentar adalah tanggungjawab anda sendiri.



VIDEO TERKINI